Sabtu, 17 November 2012

Life Begins at Thirty

Pagi ini tidak sengaja saya membaca sebuah catatan Jonru. Catatan lama sebenarnya, tapi tetap inspiraif menurut saya. Anda yang suka browse tentang menulis tentu sudah tidak asing dengan namanya. Ada yang menarik dari catatannya kali ini yakni ketika dia akan menerima sebuah pekerjaan dengan salah satu alasan untuk belajar, sang istri berkomentar : “Kamu terlalu tua untuk mulai belajar”. Dan Jonru menjawab : “Belajar tak mengenal usia”. Kalimat yang sangat inspiratif.


Saya kemudian teringat dengan cerita seorang teman di Facebook yang kini tengah mengambil studi doktoral di Negeri Paman Sam, katanya melalui sebuah status : memulai karir di usia tiga puluh bagi wanita yang sudah berkeluarga tetap saja mungkin. Kata-kata inipun menurut saya juga sangat inspiratif.

Sebagai wanita yang menikah sebelum lulus kuliah kemudian tenggelam dalam aktivitas dan rutinitas kerumahtanggaan, sempat terpikir bahwa karir saya, baik di dunia kerja maupun dunia pendidikan, sepertinya sudah berakhir. Kenyataannya, banyak kejutan dan hal yang saya lakukan ketika usia justru berkepala tiga. Mengambil studi S2 misalnya. Life begins at thirty, mungkin begitulah kira-kira judulnya :) . Saya merasa tak menemukan kata-kata betapa sempurna dan indahnya skenario yang Allah buat untuk saya.

Life begins at thirty, tidak berarti di usia ini kita baru akan mulai mencari kerja, memulainya dari bawah untuk kemudian setapak demi setapak menuju puncak. Saya rasa sudah agak terlambat. Proses semacam ini akan lebih tepat dilakukan oleh seorang single, segera setelah lulus kuliah di usia yang mungkin masih di bawah 25. Bagi seorang ibu rumah tangga apalagi di usia kepala tiga, meski tidak tertutup sama sekali namun peluangnya sangat kecil. Strateginya tentu kita harus mencari jalan pintas dan tak harus memulainya dari nol. Lanjutkan saja apa yang telah kita mulai : start tak harus sama, tapi kalau bisa mencapai garis finis lebih dulu, why not? It’s great.

Satu lagi, kita tak harus menjadi orang lain. Setiap kita pasti punya potensi. Potensi itu yang harus kita kenali dan gali lebih dalam, dioptimalkan dan mencari momen yang tepat untuk melejitkannya menjadi sebuah karir atau prestasi gemilang.

Salah satu teman favorit saya di FB adalah teman SMA saya dulu, seorang sarjana ekonomi, ibu rumah tangga yang gemar memasak. Statusnya tak jauh-jauh dari masak-memasak, tapi dia konsisten dan profesional. Dan itu yang membuatnya memiliki ”karir gemilang”. Mungkin ini bisa menjadi inspirasi bagi kita yang punya hobi memasak. Atau ada juga teman lain yang suka dengan dunia pendidikan dan anak-anak. Dia mendirikan sekolah, mengelolanya dengan profesional dan sepenuh hati. Itulah karirnya sekarang yang ia mulai ketika usianya hampir kepala tiga.

Dua cerita di atas hanya contoh, just be you. Apapun itu, jadilah yang terbaik. Apapun itu, buatlah ia mampu menjadikan hidup kita menjadi lebih hidup, lebih berguna dan tentu saja lebih bahagia.  

Usia tiga puluh memang tidak muda lagi, namun terlalu dini untuk merasa tua dan merasa tidak memiliki kesempatan lagi. Semangat!

4 komentar:

  1. Soalnya kbanyakan berpikiran mau ngelamar dimana, gitu ya mak, ga kpikiran punya usaha mandiri...

    BalasHapus
  2. Ya, salah satunya begitu Mak Rahmi :)

    BalasHapus
  3. Ya,untuk belajar, umur memang bukan penghalang.Setelah baca ini,saya jadi tambah semangat untuk mempelajari apapun..
    Trims yaa sudah berbagi..:)

    BalasHapus
  4. Iya Mbak, belajar memang tidak mengenal usia, hanya saja seringkali itu tidak mudah ketika kita benar-benar menjalaninya, bagaimanapun harus semangat dan mari saling menyemangati :)

    BalasHapus

 
;