Rabu, 21 November 2012

Ketika Pembantu Menjadi yang Nomor Satu di Hati Anak

Bagi sebagian wanita yang bekerja, menitipkan anak pada pembantu (pengasuh) seringkali menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar. Beragam perasaan kerap berkecamuk, mulai sedih, khawatir, takut dsb, kala pilihan itu harus diambil. Inilah share beberapa teman yang menarik perhatian saya beberapa waktu lalu.

Sedih adalah perasaan pertama yang umumnya para Ibu rasakan ketika anak harus ”berpindah pengasuhan” sementara waktu pada orang lain. Tak jarang Ibu menangis sejak langkah pertama meninggalkan rumah bahkan hingga sampai di tempat kerja. Perasaan berikutnya yang juga kerap menghinggapi adalah perasaan takut dan khawatir karena pada umumnya para pembantu atau pengasuh tersebut adalah orang asing yang tidak dikenal sebelumnya. Keamanan, kasih sayang dan pendidikan seringkali menjadi tiga masalah utama yang menjadi sumber kekhawatiran Ibu.

Kadang muncul perasaan takut akan ada apa-apa pada anak saat Ibu tidak di rumah seperti dibentak, dimarahi atau bahkan dipukul jika mereka berulah atau melakukan kesalahan. Bukan tidak mungkin akan sekali tersirat juga di benak Ibu tentang penculikan yang cukup santer disorot media dalam beberapa waktu terakhir. Tak adanya hubungan kekerabatan juga kadang memunculkan kekhawatiran pembantu hanya akan ala kadarnya saja menyayangi dan mengasuh anak kita, sebatas formalitas atau bergantung pada besarnya salary yang mereka terima.
Masalah pendidikan juga sering membuat para Ibu khawatir. Para pengasuh yang pada umumnya berpendidikan rendah dikhawatirkan akan ”menurunkan”, ”menularkan” atau ”mengajarkan” ilmunya pada anak-anak kita. Kekhawatiran yang sangat beralasan dan sangat mungkin terjadi karena kadang secara kuantitas mereka lebih banyak bersama anak-anak kita di waktu-waktu berkualitas anak yakni dari pagi hingga siang atau sore, saat di mana anak lebih banyak bermain dan ”belajar”. Sedangkan di malam hari di mana para Ibu umumnya di rumah, anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk beristirahat. Perasaan lain yang juga kerap muncul adalah perasaan ”cemburu” jika anak nantinya menjadi lebih dekat dengan pembantu daripada Ibunya sendiri. Terlebih jika sejak usia sangat dini, antara 2-3 bulan, mereka sudah diasuh pembantu.

Seorang teman saya yang bekerja lima hari dalam seminggu dari jam tujuh pagi hingga jam lima sore, merasa menjadi Ibu Nomor Dua saat anaknya demam ketika ditinggal mudik oleh pembantunya. Berbagai obat dan pengobatan sudah diberikan namun demam sang anak tak juga mengalami perubahan berarti. Demam itu ”sembuh” ketika si anak kembali pada pangkuan sang pembantu.

Sementara teman saya yang guru merasa prihatin atas sikap anaknya ketika diajak belajar. Si anak nyaris tak merespon ketika si Ibu menawarkan buku anak-anak yang umumnya atraktif dan menarik perhatian si kecil. Sebaliknya, si anak begitu antusias dan mudah akrab dengan peralatan dapur dan aktivitasnya seperti mencuci piring, menyapu, mengepel lantai dan sebagainya.

Teman saya yang lain merasa sedih sekaligus malu dalam sebuah acara keluarga ketika si anak yang tiba-tiba ketakutan dan menjerit entah karena apa, spontan memanggil dan memeluk pembantu padahal si Ibu berada lebih dekat dengan sang anak saat accident terjadi. Spontan hampir semua orang di acara tersebut tercengang, entah apa yang mereka pikirkan. Saya bisa bayangkan bagaimana perasaan teman saya kala itu. Keadaan yang lebih ekstrim juga pernah saya temui di mana si anak menganggap dan memanggil si pembantu dengan sebutan ”Ibu” dan justru merasa asing dengan Ibu-nya sendiri. Wow! (Gak usah pake koprol ya :) )

Cerita-cerita di atas mungkin hanya sebagian dari nilai minus jika anak terpaksa diasuh pembantu. Saya yakin, sebagaimana beberapa teman telah mengalaminya sendiri, pasti ada solusi atau langkah-langkah antisipasi untuk menghindari atau mereduksi berbagai kekhawatiran dan masalah di atas. Seperti yang dilakukan seorang teman dengan sesekali mengaktifkan telpon di rumah tanpa sepengetahuan si pembantu untuk mengetahui secara pasti apa yang terjadi dengan si buah hati saat ia di kantor.

Tak kita pungkiri, pasti ada nilai plus dan manfaat yang bisa diperoleh dalam burden sharing pengasuhan anak dengan pembantu. Hal yang paling umum dikemukakan teman-teman adalah melatih anak lebih mandiri. Manfaat lainnya adalah memberi si Ibu kesempatan untuk memiliki waktu bagi dirinya sendiri, anggota keluarga yang lain ataupun beraktualisasi.

24 komentar:

  1. Saya juga sering mendengar hal yang serupa, bu. Cuman gak sebegitu ekstrem seperti pengalaman ibu. Terus terang saya jadi bingung, nih. Bingung cari teman hidup yang bisa jadi ibu yang baik buat anak2 kelak, hahaha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah mampir Mas Praja :) Mungkin karena belum menikah, jadi cerita yang Mas Praja dengar gak seekstrim dalam tulisan ini, kayaknya yang lebih ekstrim banyak lho, it's real.

      Soal calon ibunya anak2, hehe, curhat nih :) kalau soal itu kayaknya kembali ke masing-masing pribadi ya, dan setiap pilihan pasti punya konsekuensinya. poin penting yang perlu diperhatikan adalah setidaknya harus sevisi untuk meminimalisir pertentangan dan konflik yang mungkin terjadi...

      Hapus
  2. Mak Ririn yang manis, hal-hal seperti itu sebenarnya tidak perlu terjadi apabila kita mengutamakan quality ketimbang quantity. Bunda akan berbagi pengalaman di blog bunda ya tentang ini. Insya Allah.

    BalasHapus
  3. Saya suka sedih juga mba',dengan dilema yang dialami ibu-ibu bekerja.Mau nggak mau membuat anak kehilangan haknya.Meski bekerja kadang juga sebagai wujud tanggung jawab akan kelangsungan masa depan anak, atau juga utk eksistensi dll.
    Saya ingin berbagi cerita juga, bahwa ada juga lho, ibu-ibu yang tanpa kekhawatiran menyerahkan pengasuhan sepenuhnya kepada pengasuhnya.
    Tetangga saya yang suami istri pekerja, setiap jam 7 pagi mengantarkan anaknya yang masih 7 bulan ke rumah pengasuhnya,untuk kemudian dijemput lagi jam 8 malam.Begitu setiap hari, termasuk bila ibu harus lembur di hari sabtu.Wah, nggak tega liatnya mba'. Dan yang pasti, bayinya itu lebih fasih memanggil "ndaa" (bunda) pada pengasuhnya ,darpada "maa.." mamanya sendiri.

    Ada juga tetangga saya yang lain, yang malah sangat enjoy menjalani harinya sebagai wanita karir.Pergi jam 7 dan pulang jam 9 malam.Kalau anaknya menyambutnya di pagar dan ingin memeluknya, dia menolak dengan alasan harus mandi dulu.(mungkin alasannya demi kesehatan ya? )
    Berkali-kali pengasuhnya mengadu kepada saya, tentang keinginan anaknya yang 3 tahun itu utk memeluk ibunya sepulang kerja.Kadang pengasuh itu menangis, karena pelukan itu baru dirasakan setelah si ibu rapi dan wangi. Lalu setelah itu, si anak tidur bersama pengasuhnya.Huuuuh,rasanya ingin marah ya?
    Saya juga nggak paham, entah apa alasannya.Untung saja, pengasuh itu benar-benar menyayangi anaknya dengan tulus. Nggak kebayang kalau pengasuhnya juga nggak peduli.

    Aaaah, semoga ibu-ibu tetangga saya itu segera sadar ya,mba', bahwa masa kecil anak akan segera berlalu, mereka akan segera besar tanpa kita sadari. Maukah kita, ketika mereka dewasa nanti, ada relung kosong di hati mereka tentang peran dan cinta seorang ibu?apa kenangan yang sudah kita ukir dibenaknya?apakah untuk sebuah pelukan hangatpun dia harus meminta?
    aaaah,jadi pengen nangis sayaa... :'(

    Semoga kita semua bisa menjadi ibu yang baik ya,mba' apapun kondisinya, baik itu ibu bekerja ataupun di rumah.
    Jangan biarkan pengasuh menggantikan tempat terindah di hati anak-anak kita.
    Bukankah Ibu, orang yang memang seharusnya mereka cintai? bahkan tiga kali, setelah itu..,barulah Ayah..

    *maaf kepanjangan ,salam :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sharingnya Mbak Waya, semoga menjadi pelajaran berharga buat kita. Iya Mbak, banyak seribu alasan mengapa anak diasuh pembantu, ada yang sebagian memang karena terpaksa tapi mungkin ada pula yang memang ditujukan untuk melarikan diri dari tugas keibuan, semoga yang terakhir ini sangat sedikit jumlahnya dan kita tidak termasuk di dalamnya (kebetulan saya belum pernah menggunakan jasa pembantu untuk mengurus anak, semoga tidak akan pernah :) ).

      Turut sedih juga mbak atas apa yang dialami oleh anak2 yang kurang kasih sayang terutama ibu. Beruntungnya dalam cerita Mbak, pembantunya baik ya...:)

      Hapus
  4. Kurelakan waktu hanya untuk totalitas merawat buah hati yang jarak kelahiran tidak terlalu jauh.Gajian suami saat itu harus diperketat untuk pengeluaran yang gak penting.Pingin banget kerja,tapi tak tega meninggalkan buah hati,bahkan untuk menitipkan pada ortu atau mertua aku tak ingin(selain tak ingin merepotkan beliau-beliau juga sihh).
    Ya udah buang sementara semua keinginan kerja,toh akhirnya saat ini biketika anak sdh beranjak dewasa emaknya bisa kerja lagi..tak ada yang sia-sia,Kami begitu dekatnya..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Speechless bacanya Bu, senangnya...:) Ya, salah satu kekhawatiran istri saat memilih untuk tidak bekerja atau resign adalah masalah kesinambungan dan kemapanan finansial. Alhamdulillah, sejauh pengalaman saya, ketika saya memutuskan untuk melepaskan sebuah kesempatan untuk bekerja, Allah membuka pintu rizki lain yang tidak terduga. Terimakasih sudah berbagi....:)

      Hapus
  5. sedikit berbagi pengalaman ttg hal ini,
    semoga bermanfaat :)

    http://nurulhabeeba.blogspot.com/2012/11/penitipan-anak-bisa-menjadi-alternatif.html#more

    BalasHapus
  6. Sedikit komentar nih mbk Ririn. Anak saya kini berusia 1 thn. Dari sejak menikah thn lalu, saya sdh merencanakan utk berkarir. Tetapi Allah berkata lain. 2 mgg stlh menikah, oleh dokter saya dinyatakan positif hamil. Antara senang dan tdk rasanya wkt itu. Senang krn akan segera pny momongan. Tdk krn keinginan saya utk berkarir tdk dpt terlaksana scptnya. Hari berganti hari, saya menikmati peran saya sbg new mom. Walau tak jarang saya sering mengeluh krn kecapekan dlm mengasuh sndr si kecil. Suami krj(sering keluar kota utk bbrp hari), sedangkan tdk ada pembantu di rmh, dan keluarga msng2 dari saya maupun suami tdk berada dlm 1 kota yg sama. Saya trmsk tipe orang yg tdk bisa & "tahan" dgn rutinitas yg sama, dan terus berulang-ulang dlm jangka wkt yg panjang. Saya berkeinginan utk cari pekerjaan diluar rmh. Tentu saja, konsekuensinya adalah anak saya. Mau tak mau, saya hrs pny pembantu/pengasuh. Sebenarnya suami pun mendukung keinginan saya utk berkarir. Sering, ketika di saat si kecil tertidur pulas di mlm hari, saya dan suami berdiskusi tentang hal ini. Kesepakatan diantara kami adalah saya diperbolehkan berkarir. Tetapi, jika mata kami melihat si kecil yg terbaring dg indah di peraduannya, terkadang kesepakatan itu mendadak berubah. Tidak tega rasanya "meninggalkan" anak kepada orang lain, walau itu kepada orang tua, mertua, atau kerabat sendiri. Sering saya mengalami dilema. Antara berkarir (dengan beragam alasan), atau tetap mengasuh anak hingga si anak bisa mandiri. Disinilah ego saya sering berbicara. Walaupun sebenarnya saya bukanlah murni IRT, tanpa ada kegiatan lain selain mengurus rmh, anak, dan suami tentunya. Saya mempunyai bisnis kecil-kecilan di bidang fashion. Karena sistemnya titip jual di toko, dan saya baru bs nagih penjualan jika sdh ada yg laku, membuat saya merasa "masih" perlu menjalani aktivitas finansial lain diluar agenda rutin saya sbg IRT. Lepas dari itu semua, selama "nasib" saya "mengharuskan" saya utk tetap mjd seorang IRT, saya akan berusaha sekuat tenaga, untuk dapat mengasuh si kecil dengan tangan saya sendiri. Karena saya tidak ingin kehilangan momen-momen indah bersama si kecil, yang takkan mungkin terjadi 2x dalam hidup saya :).
    Eh, kok jadi panjaaaaang ya komennya?hihiii.... *maaf ya mbk Ririn :D*

    BalasHapus
  7. Mengharukan sharingnya Mbak Enda, terimakasih sudah berbagi :) sepanjang pengalaman saya juga, ego memang selalu berbenturan Mbak, antara ingin beraktualisasi dengan bekerja dan keinginan untuk terus dekat dengan buah hati. Saya mendoakan Mbak bisa merangkul keduanya dengan baik, meski untuk saat ini anak mungkin masih menjadi prioritas karena masa kecil mereka begitu singkat dan itu tidak akan terulang. Semangat Mbak, semangati saya juga ya....:)

    BalasHapus
  8. Lalu buat apa mereka menikah dan punya anak? jika alasannya adalah uang dan pekerjaan kenapa tidak menikah saja dengan UANG. Masa kecil anak tidak akan pernah terulang kembali selamanya

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. pnyesalan akan dtg dkmudian hr.. jd jgn salahkn anakny kl anakny dh pd dewasa,gantian mreka yg menitipkan ibuny d pnti jompo..

    BalasHapus
  11. Ini salah satu dampak dari gerakan feminisme. Harusnya, masing-masing laki-laki dan perempuan jangan mengejar 'hal yang sama' *uang*.

    BalasHapus
  12. Jangan sampai aku termasuk ibu yg kaya cerita di atas tadi

    BalasHapus
  13. Halo Bunda Ririn,

    Saya seorang working mom, saat ini anak saya (laki2) berusia 8 bulan 16hari, sungguh menyedihkan beberapa hari ini saya sedang merasakan kedekatan anak saya dengan baby sitter dan neneknya (mertua saya).

    Padahal dari umur 3 bulan sejak memakai jasa baby sitter, saat mulai masuk kerja saya selalu menerapkan pola: pulang kerja (jam 17.30) langsung mandi dan maiin dengan anak walau sebentar sampai menina bobokan (jam 18.00), kalo weekend dari jalan pagi brg smpai siang dengan saya, stelah itu istirahat sbentar.

    Tujuannya supaya bisa selalu dekat dengan anak dan si suster jg gk terlalu capek, mlmnya jg kalo nyusu selalu dg saya tanpa membangunkan siapapun. Tapi dengan skrg dilema ini, sungguh membuat saya jd sedih sekali dan mulai berpikir untuk resign saja.

    Tapi dari beberapa hasil browsing sharing opini, saya menemukan informasi bahwa memang usia hingga 1 tahun adalah fase anak dalam mencari org terdekatnya, setelah itu 1thn ke atas fase dapat mulai membedakan yg mana orang tuanya, dst.
    Jadi untuk saat ini saya masih bertekad untuk "tidak kalah" dg susternya, hehehe.

    Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi para working moms lainnya ya. :)

    BalasHapus
  14. :') sedih baca itu
    Dan itu terjadi padaku :)
    Anak yg di asuhkan ke orang lain dari mulai bayi .. sampai umur 9 tahun
    Dan tiba" di CUT bgitu saja .. aku harus ninggalin ibu asuh ku (yg akrab aku pgil mbok)
    .. tdak boleh bertemu n apapun yg brhubungan dgn dia ..
    Dan itu semua mnjadi luka yg sampai skarang (aku umur 19) masih trbawa .. akku benci ibu kandung ku sendiri .. tapi aku mnutupi itu .. dgn sok kuat n brsikap dingin :')
    Jangan salah .. walaupun ibu pengasuh .. kasih sayang mbok amat sangat melebihi ibu kandung ku sendiri .. n aku merindukan itu semua .. yg skarang tdak prnah ku rasakan ..
    Dimanapun mbok brada .. semoga slalu di lindungi allah .. tunggu aku utk bisa mmbalas smw kebaikan n kasih sayang tulusmu ;) ({})

    BalasHapus
  15. :') sedih baca itu
    Dan itu terjadi padaku :)
    Anak yg di asuhkan ke orang lain dari mulai bayi .. sampai umur 9 tahun
    Dan tiba" di CUT bgitu saja .. aku harus ninggalin ibu asuh ku (yg akrab aku pgil mbok)
    .. tdak boleh bertemu n apapun yg brhubungan dgn dia ..
    Dan itu semua mnjadi luka yg sampai skarang (aku umur 19) masih trbawa .. akku benci ibu kandung ku sendiri .. tapi aku mnutupi itu .. dgn sok kuat n brsikap dingin :')
    Jangan salah .. walaupun ibu pengasuh .. kasih sayang mbok amat sangat melebihi ibu kandung ku sendiri .. n aku merindukan itu semua .. yg skarang tdak prnah ku rasakan ..
    Dimanapun mbok brada .. semoga slalu di lindungi allah .. tunggu aku utk bisa mmbalas smw kebaikan n kasih sayang tulusmu ;) ({})

    BalasHapus
  16. Banyak sekali komentar2 yang menghakimi dan tidak membantu ya.
    Seandainya memang situasi tidak memungkinkan untuk mengasuh anak sendiri, memangnya sebagai ibu tidak merasakan sakit hati pulang kerja capek lalu anaknya menangis pas digendong ibunya minta sama suster nya.
    Tidak ada ibu yang ingin bekerja dan meninggalkan momen2 indah dengan si anak.
    Yang pasti beberapa komentar2 diatas saya baca memang beruntung bisa menjadi IRT dan menikmati momen2 bersama anak2, tapi rupanya banyak juga yang malah menghakimi dengan alasan feminisne atau menikmati karir.
    Ya seandainya tanpa si ibu kerja bantu ayah tidak bisa bayar cicilan rumah, bagaimana? Tidur aja di jalanan yang penting bisa gendong anak? Tapi tega membiarkan anak2 terlantar?
    Lalu pengamen2 yang mengandung sembarangan dan membiarkan anak2 ngamen itu contoh ibu yang bijak?
    Apa salahnya seorang ibu bekerja agar bisa memberikan yang terbaik untuk anak2? Sekolah yang bagus untuk masa depan si kecil?
    Bagus2 sj kalau yang suaminya mampu sendiri, kalau yang harus kerja berdua?
    Sy sendiri ibu yang bekerja demi mengumpulkan untuk biaya pendidikan agar anak2 bisa kuliah sampai selesai, itu pun sy dihakimi oleh sesama ibu2?

    BalasHapus
  17. Komentar2 yang sungguh membuat ibu pekerja tambah sedih..

    saat ini saya mengalami fase seperti yang sdh bnyk diceritakan di atas, anak yang lebih lengket ke pengasuh. sakit...dan sangatt...
    tapi saya percaya ikatan ibu kandung dan anak tidak akan bisa hilang dan tergantikan. dia tak akan salah mengenali detak jantung yang slalu dia dengar selama 9bln dikandungan

    menjadi ibu pekerja tak smua minus seperti yang diceritakan, saya berpenghasilan, saya bisa berbagi, dengan orang tua, dengan saudara, dan teruntuk anakku... suatu saat saya yakin dia akan bangga mempunyai ibu seperti saya, saya yakin itu :)

    sangat ingat dulu, sebelum mempunyai anak...saya sedang berjalan sore, saya melihat ibu pemulung yang sedang bergumul dengan tumpukan sampah, ntah apa yang dicari, mungkin sesuatu yang masih bisa terpakai. tapi yang membuat air mata ini ingin mengalir, dibawah kakinya..anak seorang bayi mungil yang penampilannya hampir sama dengan ibu, dan juga tengah bermain dengan tumpukan sampah itu. dari situ tebesik hati dan pesan untuk anakku kelak.. aku akan menjagamu sebisa mungkin aku akan menjagamu, aku akan melindungimu sebisa mungkin aku akan melindungimu, dan saya yakin, hasil yang saya dan suami dapat dengan bekerja ini Insya Allah berkah untukmu kedepan nak :') Aamiin...

    Semangat untuk ibu2 pekerja :)


    BalasHapus
  18. Saya juga ibu yang bekerja senin sampai sabtu (sabtu setengah hari). Anak saya umurnya 1 tahun 4 bulan, diasuh oleh mertua. Dari saya menikah sampai sekarang, saya memang kurang cocok dengan mertua dan cara berpikirnya terutama dalam merawat dan mengasuh anak, tapi saya tidak punya pilihan. Suami juga berkeinginan anak diasuh mertua selama saya bekerja. Sekarang kondisi suami tidak bekerja, sehingga suami ikut mengasuh anak. Tapi saya sangat sedih, karena anak lebih dekat dengan suami dan keluarga mertua. Sedih, ketika anak menangis, hanya bisa diam ketika suami yang menggendong, padahal tiap malam sudah diupayakan bermain dengan anak.Anak juga lebih mencari ipar daripada saya.Menurut suami, hal ini adalah biasa. Menurut saya yang adalah ibunya, saya sulit menerima. Seandainya kondisi finansial lebih baik dan suami tidak bermalas-malasan dalam mencari rejeki buat keluarga,dan lebih berhemat serta tidak merokok (suami saya perokok, gaji saya lebih banyak habis untuk rokoknya daripada keperluan saya) saya lebih memilih merawat & mengasuh sendiri anak saya.

    BalasHapus
  19. Sekarang aq lg mengalaminya.aq bekerja brgkt pagi dn mpe rumah jam 18.00wib.anak keduaq semenjak berusia sdh 2bulan ini praktis dia tdk mau pulang k rumah sama sekali.aq sangat sedih awalnya..selanjutnya bingung ketika ia d ajak pulang ia menangis sejadi2nya..dn minta tinggal bersama d pengasuh.ia lebih sayang kepada pengasuh dan memang panggilannya sdh mama dan ayah kpd pengasuh..mohon bantuan ap yg hrs q lakukan.aq sdh brusaha tp selalu gagal dn brkhir dg tangisan dia kpd pengasuh yg msh tetangga dgq..

    BalasHapus

 
;