Selasa, 06 November 2012

Ketika Cinta Tak Lagi Berwarna Merah Jambu

Saat awal-awal menikah dulu, jika aku marah atau bersedih, suamiku akan segera ke toko bunga, membeli beberapa tangkai mawar, lalu memberinya padaku sambil berkata : "Maafkan Aku!" So sweet. Padahal belum tentu dia salah atau menjadi penyebab kemarahan dan kesedihanku.Atau kalau dia lagi gak punya uang untuk beli bunga, dia akan menulis di buku harianku : I Love U, Honey

Sedikit lebih lama usia pernikahan kami, kalau aku bilang lagi bete, dia akan bilang, "Jalan-jalan sana, beli apapun yang kamu mau". Hehe, temenku sampe iri lho waktu kuceritain, "Sering-sering aja ngambek atau bete" katanya. Or ketika pulang kantor, dia akan tanya lebih dulu ngapain aja aku hari itu? Dan sebagai istri yang baik ya aku jujur aja, nyuci baju (aktivitas utamaku ketika masih di Pondok Mertua Indah). Mendengar jawabanku, biasanya dia akan langsung pegang tanganku sambil bilang, "Jangan sering nyuci Honey nanti tanganmu kasar. Kalau mau cuci baju, sama-sama biar kubantu" Oh manisnya, tapi itu dulu. Sekarang? Cinta tak lagi berwarna merah jambu! Melihat cucian yang menumpuk, sambil cengar cengir biasanya dia akan bilang, "Gak nyuci Ma?"

Bunga-bunga mawar nan cantik itu entah kemana. Perhatiannya mungkin banyak berubah tapi InsyaAllah aku yakin “cinta” itu tetap ada. Hanya saja, seiring waktu, cinta yang mulanya berwarna merah jambu kini telah berwarna-warni, terekspresikan lewat cara dan sarana lain tanpa mengurangi nilai hakikinya. Mungkin akan bosan jika sepanjang hari, minggu, bulan dan tahun, cinta hanya berwarna merah jambu. Kurasa pelangi justru terlihat indah karena terdiri dari beberapa warna yang berbeda. Bayangkan jika pelangi hanya satu warna. Mungkin begitu pula cinta dalam lima tahun pertama pernikahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;