Kamis, 22 November 2012

Kerang Masak Kecap Rasa Sandal Karet

Info Resep Membuat Sate Kerang Belawar
Foto by resepmasakankoki.info

Kali ini saya kena batunya. Lewat tumis kerang masak kecap yang keras dan kenyal seperti sandal karet, Allah memberi pelajaran sangat berharga pada saya bahwa menjadi seorang ibu (yang berusaha menjadi ibu) yang baik, ada seninya. The art of being mom.

Cerita ini bermula ketika suatu siang, saya dan suami berniat menjemput Sasha, putri sulung kami yang menginap di rumah bapak ibu. Sesampai di sana, saya mendapati Ibu dan Sasha tengah mengelilingi meja makan. Rupanya Ibu sedang membuat sate kerang buat Sasha. Membayangkan betapa rumitnya menusuki kerang yang kecil-kecil, saya bergumam : “Ribetnya, langsung disaji di piring atau mangkuk kan lebih praktis, langsung nyam-nyam”. Tentu saja hanya dalam hati, mana berani saya bilang langsung sama Ibu. Dasar menantu bandel, hihi.

Karena Sasha dan ayahnya sepertinya suka, saya berniat akan membuatnya suatu hari. Dan hari itupun tiba. Tentu saja tidak pakai ditusuk segala, langsung tersaji di piring dan siap disendoki.

”Enak juga” komentar suami begitu mencicipinya. Hanya saja, saya merasa kalimatnya menggantung, “Tapi tak seenak kerang masakan Ibu” kurang lebih begitu kalimat lanjutannya, menurut dugaan saya. Karena sayapun merasa kerang masakan saya sepertinya bumbunya kurang meresap. Namun karena apresiasi keluarga sepertinya cukup bagus, memotivasi saya untuk memperbaiki resep tadi lain waktu.

Pada masak kerang yang kedua kali, kerang saya masak lebih lama. Dan hasilnya dari segi rasa memang lebih terasa bumbunya hanya saja karena terlalu lama dimasak, kerangnya jadi mengaret.

“Maaf, kerangnya agak keras” kata saya pada suami saat menyiapkan makan siang.

”Ini bukan agak keras, tapi memang keras” jawabnya. Ih jujur banget sih…. Pura-pura gak tau kenapa?

”Kerangnya koq keras Ma?” Sasha ikut-ikutan protes. Kapok deh masak kerang, batin saya dalam hati. Tapi karena saya mudah amnesia pada masakan dan makanan, kira-kira seminggu kemudian ketika tukang sayur langganan membawa kerang, tanpa pikir panjang langsung saya beli.

“Kerang lagi?” komentar Sasha dan ayahnya kompak begitu melihat saya menenteng plastik belanjaan berisi kerang. Dari nada bicaranya, cukup jelas tersirat kalau mereka masih ”trauma” dengan kerang karet minggu lalu. Upss saya lupa pada perjanjian tentang masak memasak dalam keluarga kami.

Menurut Peraturan Keluarga tentang Masak Memasak, Peraturan No.1 berbunyi : Mama gak boleh mengulang masakan yang sama dalam waktu yang berdekatan, maksimal dua kali dalam seminggu untuk masakan favorit keluarga; seminggu sekali untuk masakan yang biasa-biasa saja dan berjarak 10 hari atau dua minggu (kalau perlu satu bulan) untuk masakan yang trouble (contohnya seperti kerang karet tadi)….”

Sayang mereka gak bisa protes lebih lanjut, karena menurut Peraturan No.2 : setiap yang dimasak Mama harus dimakan sampai habis dengan penuh suka cita; komplain, saran, masukan dsb baru boleh diberikan setelah makan dengan catatan melihat situasi dan kondisi apakah Mama sedang mood untuk menerima kritikan, dengan catatan pula menghindari bahasa dan kata-kata yangbisa membuat Mama tersinggung sehingga gak mau masak lagi…. Hehe, untuk poin yang kedua ini memang saya yang mengusulkan klausulnya, agak mau menang sendiri, tapi tak apalah, hihi.

Karena peraturan di atas khususnya untuk poin nomor 2, memiliki ”kekuatan hukum” yang tetap dan mengikat, maka menu makan siang kami hari itu tetap si kerang. Di sinilah saya merasa perlunya sentuhan seni dalam proses untuk menjadi Ibu yang baik. Saya putuskan hari itu untuk menusuki kerang-kerang tersebut menjadi sate.

Duh, ternyata tidak mudah menusuki kerang-kerang yang ukurannya kecil itu. Apalagi kalau orangnya tidak sabaran seperti saya (jangan-jangan, saya kualat sama Ibu Mertua karena menggetuni beliau dalam hati tempo hari saat membuat sate kerang juga). Padahal Sasha juga Naura sudah tidak sabar untuk mencicipi.

Tusukan pertama dan kedua langsung saya berikan pada mereka. Tusukan berikutnya belum juga selesai, sate kerang yang mereka makan sudah tinggal tusuknya. Akhir cerita, hanya sepertiga kerang yang berhasil saya buat menjadi sate. Sisanya, seperti biasa langsung saya sajikan di piring.

Peristiwa di atas mungkin begitu sederhana namun meninggalkan kesan dan pelajaran yang sangat mendalam bagi saya. Bahwa, ada seni (dan perjuangan)-nya untuk berproses menjadi Ibu yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;