Senin, 12 November 2012

Keluar dari Zona Nyaman.....

Hari-hari terakhir terasa begitu cepat berlalu. Waktu seolah berlari. Bukan karena ia seindah pelangi, tapi terlalu pahit untuk dirasa lama-lama. Seperti meminum obat yang sangat pahit, saya menghilangkan separuh kesadaran saya dan membuat separuh jiwa saya yang lain menjadi amnesia, saat meminumnya. Agar "pil pahit" itu tidak terlalu menyiksa.


Rutinitas setiap minggu itu biasanya dimulai dengan sindrom "I hate monday", dan "I hate train". Senin adalah hari di mana saya harus ke Surabaya. Kereta adalah pilihan transportasi yang paling memungkinkan untuk menghindari kemacetan luar biasa jika memakai sarana transportasi bus atau travel. Sekitar lima jam sekali perjalanan atau sepuluh jam dalam seminggu saya habiskan di kereta.

Pada hari minggu, saya biasanya sudah mulai kehilangan selera makan. Malam senin adalah malam yang sendu. Melalui sepanjang malam sambil memeluk anak-anak. Dengan beberapa kali uraian mata. Tak hanya Sasha, Naurapun beberapa kali turut mengusap air mata saya dengan tangan mungilnya. Sedih itu terkadang sulit untuk disembunyikan dari mereka.

Keesokan harinya, saya masuki stasiun dengan mata yang sembab. Tak lagi merasa malu jadi tontonan orang. Karena air mata terlalu banyak untuk dihapus oleh sapu tangan. Sedih? Jangan ditanya lagi Kawan. Butuh waktu lama untuk memulihkan kesadaran bahwa kereta telah membawa saya sejauh 200 km dari anak-anak.

"Apa yang kamu cari?" suara renta itu menyudutkan saya dengan sebuah pertanyaan sederhana. Kakek saya, yang dulu pernah saya buat menangis saat saya katakan pada beliau bahwa jika besar nanti saya ingin menjadi seorang duta besar. Saya katakan padanya pula, saya ingin sekali melanjutkan studi ke Eropa. Dan ketika tangga impian itu satu persatu mulai saya tapaki, Eyang saya kembali mempertanyakan kesungguhan saya. Apa yang saya cari dengan semua pengorbanan yang tak murah dan tak mudah ini?

Ah Eyang, atau siapapun yang menanyakan hal sama padaku, aku sedang keluar dari zona nyaman, karena aku ingin berubah, ingin melakukan banyak hal lebih baik dalam hidupku. Maaf, hanya itu yang bisa kukatakan....

Dan, keluar dari zona nyaman itu sungguh sebuah perjuangan yang tak mudah....

Terimakasih ya Allah, karena ada dia, dia, dia, dan mereka yang senantiasa menguatkanku. Dan aku tak tau bagaimana harus berterimakasih untuk semua kebaikan yang tak mungkin kubalas ini.........

11 komentar:

  1. Tabah mak, syukuri kesempatan yg ada. Teman sy dg 4 anak sudah jd doktor & sudah mondar-mandir ke amerika & eropa. Sy tdk bisa seperti itu, tp sy bangga jk perempuan lain bisa.
    Mak, option komentarnya ditambahi "name/URL" dong, biar sy bisa sering2 komen disini tanpa harus login ke gmail.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah tahapan yang ini sudah terlalui Mbak, bersiap untuk tangga berikutnya :) turut senang juga mbak kalau ada saudari-saudari kita yang bisa melakukan banyak hal tidal hanya untuk diri dan keluarga. Untuk tambahan name/URL, terimakasih masukannya :)

      Hapus
  2. selalu tidak mudah untuk sebuah perjuangan.
    dukungan dan pengertian keluarga akan menguatkannya.
    Semanagt ya mbak... semoga Allah senantiasa melindungi mbak dan keluarga.

    Salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Mbak Niken, Aamiiin, semoga Mbak n keluarga juga senantiasa dalam lindungan dan kasih sayang-Nya.

      Salam kenal kembali :)

      Hapus
  3. Infonya sangat bermanfaat, terima kasih ;)

    BalasHapus
  4. makasih ya mbak infonya,,ber manfaat sekali

    BalasHapus
  5. saya sudah keluar dari jona nyaman...dan butuh perjuangan...sukses selalu gan

    BalasHapus
  6. bagus sekali info yang di bagikan
    sanagat menarik sekali
    terimakasih

    BalasHapus

 
;