Jumat, 23 November 2012

Gaji Pertamaku

Sumber Foto : shutterstock

Apa sih rasanya bekerja dan mendapatkan gaji tetap setiap bulannya?
Pertanyaan ini sering saya tanyakan kepada beberapa teman (perempuan) yang bekerja, ketika rasa jenuh dan bosan sebagai Fulltime Mom alias Ibu Rumah Tangga tengah mencapai titik klimaks.


Saya memang tidak pernah bekerja dalam arti terikat dengan satu instansi, dengan aturan waktu dan salary yang sudah baku. Hanya pernah sempat menjadi mentor menulis di sebuah sekolah selama beberapa waktu dengan status freelance sehingga saya tidak berkesempatan untuk benar-benar merasakan bagaimana rasanya bekerja.

Saya sering mengandai-andai bagaimana rasanya dikejar deadline, dipressure tim atau dimarahi atasan. Rasanya begitu dinamis, penuh tantangan. Dan tentu saja saya juga sangat penasaran bagaimana excited-nya menerima gaji.

”Dunia kerja itu keras, penuh tekanan, kadang tanpa kompromi” kata suami  ketika saya bertanya padanya. Sebaliknya, beberapa teman lebih sering mengeluh tak enaknya bekerja ketika saya tanya bagaimana rasanya bekerja.

”Aku stres sekali hari ini” cerita seorang teman yang bekerja sebagai guru, via sms.

”Satu kelas gak ada yang bikin PR. Sekarang kuhukum mereka semua untuk mengerjakan tugas dan kutinggal ke kantin. Kenakalan mereka membuatku lapar” lanjutnya. Hemmm.... solusi yang unik juga, pikir saya.

”Maaf Ririn baru bisa membalas smsmu, mau rapotan begini sibuk dan stress semua” cerita teman yang lain yang juga bekerja sebagai guru. Dengan alasan yang tidak jauh beda, seorang teman yang berprofesi sebagai dosen juga mengeluhkan hal yang sama.

”Dua minggu ini aku lembur terus, sampai rumah larut malam” cerita seorang teman yang bekerja sebagai humas di sebuah perusahaan multinasional, via sms pada waktu jam di HP menunjukkan pukul 22.30-an. Pernah pula dia SMS hampir tengah malam. Padahal ia berangkat ke kantor pagi hari bahkan kadang tak lama setelah Subuh.

Seorang teman lain juga mengeluhkan, karena bekerja ia hanya punya waktu beberapa jam saja dalam sehari untuk bersama dengan anaknya yang sudah harus ditinggal bekerja sejak usia tiga bulan. Teman lain tak kalah memprihatinkan karena hanya akhir pekan saja bisa bertemu si kecil.

Kenapa mereka lebih banyak menceritakan hal-hal yang buruk saja ya?

Bukankah banyak juga hal positifnya. Selain gaji, mereka punya prestise yang lebih tinggi di masyarakat. Lebih dimaklumi ketika mengeluh capek dan ingin dimengerti ketika meminta bantuan atau terpaksa mempekerjakan pembantu untuk mengurus rumah dan anak-anak. Sedangkan saya yang Ibu Rumah Tangga, baru dengar saya bilang IRT aja banyak yang langsung merubah nada bicaranya. Apalagi kalau saya cerita betapa capek dan stresnya ”bekerja” mengurus anak-anak 25 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu dan 365 hari dalam setahun tanpa cuti dan libur. Tanpa gaji pula. Yang juga ”menyakitkan”, hehe ini juga alasan banyak teman kenapa ngotot bekerja lho, Ibu rumah tangga seringkali tidak punya kuasa dalam hal finansial. Padahal sebagai manusia biasa, mereka ingin bereksistensi dan punya harga diri dalam hal yang satu ini.
...................

Jika saya pikir-pikir, sebenarnya saya bukan pengangguran total, teman-teman yang saya curhati banyak juga yang menyemangati begitu. Ah, jangan-jangan karena mereka kasihan saja

”Menulis itu juga pekerjaan kalau yang namanya bekerja diartikan sebagai kegiatan yang menghasilkan uang, karena dari menulis kamu terbukti juga punya penghasilan” kata seorang teman yang tak bosan menyemangati saat saya sedang down.

”Kamu beruntung Rin, tidak perlu kehujanan dan kepanasan tapi bisa mendapat penghasilan lebih besar” teman yang lain berpendapat.

”Aku justru iri padamu, bisa menghasilkan uang tanpa harus meninggalkan anak-anak” ujar teman yang lain. So, apalagi yang kurang? Saya jadi ikut-ikutan mengintrogasi diri sendiri. Lebih tepatnya mungkin bertanya, ”Apa sih sebenarnya yang saya cari?”

Ayo Ririn jawab dengan jujur. Hehehe (sambil garuk kepala dan tengok kanan kiri)
................

Saya memang suka dan sering menulis. Suatu aktivitas yang bisa bernilai ekonomis dan sangat prestis sebenarnya. Tapi mungkin, sudah tabiat manusia yang selalu melihat rumput tetangga lebih hijau, rasa penasaran tentang bagaimana rasanya bekerja seringkali menggoda.
Saya pernah melamar mengajar pada sebuah sekolah yang terbilang terbaik di kota saya. Meski ada sedikit persaingan tapi saya tetap lolos. Ada yang menarik saat proses interview ketika sang guru senior menanyakan apa aktivitas saya selama ini. Ya tentu saja saya jawab tentang kegiatan menulis, bagaimana dan apa yang telah saya peroleh baik secara materi maupun non materi.

Si Bapak sempat tercenung beberapa saat kemudian berkata : “Enak sekali jika punya istri yang bisa menulis”. Entah apa maksudnya, saya hanya menyimpulkan ketika itu ia ingin berkata ”Ini bukan tempat yang tepat untukmu”.

Akhirnya saya dinyatakan diterima dan Alhamdulillah saya resign pada hari pertama saya bekerja. Bukan karena gajinya yang kecil, namun karena jam kerjanya mengharuskan saya kehilangan banyak waktu berkualitas untuk keluarga.

Mungkin karena tidak pernah bekerja sebelumnya, saya tidak paham arti ”fulltime” yang sebenarnya sudah mereka sebutkan sejak awal dan baru saya ketahui ketika Kepsek memberikan briefing satu hari sebelum seharusnya saya mulai bekerja. Saya pikir yang dimaksud fulltime artinya bekerja penuh waktu sesuai dengan jam mengajar dan tidak menyabang di sekolah lain. Ternyata selain pengertian saya itu, fulltime yang mereka maksud berarti pula bekerja seharian alias fullday dengan sedikit toleransi untuk ijin keluar. Sebelum siswa datang atau jam 06.30 WIB saya sudah harus ada di sekolah dan baru pulang ketika semua siswa sudah pulang sekitar jam 14.30 WIB. Jika ada rapat dsb bisa lebih dari itu.

Begitu tau penjelasannya begitu, saya langsung teriak dalam hati : ”Oh No! Aku gak bisa bekerja dengan jam kerja begini. Pagi ketika berangkat, Sasha (baru berumur tiga tahun ketika itu) belum bangun dan ketika aku pulang, tak lama setelah itu suami berangkat ke kantor.

"Sorry Sir I Can’t!”. Hari pertama bekerja saya langsung membawa surat pengunduran diri dan berhenti hari itu juga. Keputusan itu saya anggap terbaik dan saya syukuri hingga sekarang.

Pulang dari sekolah itu saya langsung memasukkan lamaran ke beberapa sekolah sebagai mentor menulis dengan satu catatan : tidak terikat. Di satu sekolah yang kebetulan Kepseknya sedang stand by dan menemui saya langsung, beliau mengajukan pertanyaan :

”Anda minta bayaran berapa?”

Saya gelagapan mendapatkan pertanyaan tersebut. Niatan untuk menjadi mentor lebih didorong karena ingin berbagi, saya tidak punya bayangan soal salary. Saya tidak ingin dan tentu saja tidak bisa berharap banyak dalam hal itu.

”Sesuai standar sekolah ini saja Pak” jawab saya polos.

”Seorang profesional seperti Anda, apa mau dibayar seperti pelatih sepakbola?” saya hanya tersenyum, semakin bingung.

”Pelatih sepakbola kami dibayar Rp 125 ribu sebulan, empat kali melatih. Jadi kurang lebih Rp 30 Ribu setiap pertemuan” saya meringis dalam hati. Hemm tapi lumayan juga daripada berangkat pagi pulang sore dengan gaji Rp 2000 per jam.

Akhirnya saya tidak jadi menjadi mentor di sekolah itu, bukan karena saya tidak mau tapi karena sekolah yang bersangkutan merasa tidak butuh seorang mentor menulis untuk bidang sosial seperti saya.

Akhirnya saya merasakan juga ”bekerja” sebagai mentor menulis di sekolah lain. Saya tak tanya berapa saya akan dibayar, saya langsung mengajar saja dengan sepenuh hati. Bahagia. Sempat berpikir andai itu tidak seminggu sekali karena terlalu lama harus memendam rindu untuk bisa bertemu dengan siswa-siswa, belajar bersama, berdiskusi dan terkadang menjadi teman curhat mereka.

Aha, ”gaji pertama”pun akhirnya saya terima. Berbungkus amplop putih kecil.

”Jangan lihat nominalnya Bu” kata seorang guru yang menyerahkannya ke saya. Sampai di rumah saya memamerkannya kepada suami, amplop gaji pertama saya yang belum juga saya buka.

”Berapa?” tanya suami penasaran. Saya hanya menggeleng, sambil tetap tersenyum bahagia.

”Traktir donk” goda suami.

Bersama kemudian kami membukanya dan terlihatlah satu lembar uang dua puluh ribu dan empat lembar uang seribuan. Senyum saya sedikit menyusut, sebaliknya senyum suami semakin mengembang. Tersenyum kasihan.

”Yah, kalo jumlahnya cuma segitu aku aja deh yang bayar” godanya sembari menyemangati.

Dua puluh empat ribu "gaji pertama" itu saya masukkan dalam amplop lagi. Ingin rasanya saya melaminatingnya. Tapi sudahlah, cukup di hati saja saya menyimpannya, sebagai "gaji pertama" dalam hidup saya.

12 komentar:

  1. Belum bisa komentar banyak, endingnya saya hanya tersenyum sedikit tertawa mb Rin..*bukan 'ngece' lho tapi kasusnya mirip banget kayak saya dulu pas nerima amplop pertama.hehe,

    BalasHapus
  2. Embak...aku menangis nih, tisue? nyentuh, memojokkan, menilai dan menggurui serta iya itu aku. Aduuuh, jadi bercucuran nih. Bagus banget ceritanya, dan aku banget. Endingnya yang bikin mata berpendar menangis mbak.... profil singakt saya ya (bekerja-IRT urus anak-bekerja)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh maaf Mbak Astin kalau tulisan ini membuat Mbak menangis, maaf kalau ada-ada yang kurang berkenan. Sekarang sudah bekerja lagi ya Mbak? Salam kenal....

      Hapus
    2. semua yang ada disitu, saya banget mba. saya menangis karena tersentuh dengan tulisan mba. Iya sekarang bekerja lagi tapi saya tetap memilih yg fleksibel, tidak meninggalkan anak terlalu lama dirumah dan memilih yang terdekat dengan rumah walau ada pilihan dengan gaji besar ditempat yang jauh. makasih ya mba ririn.

      Hapus
  3. Balasan
    1. Mbak Binta sampai speechless karena begitu melasnya :)

      Hapus
  4. dulu saya pernah ngotot pengen gajian, ga banyak.
    dan suami bilang, "mending saya yang gaji kamu dari pada kamu harus ninggalin rumah".
    hehehe . . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, memang kenapa Mbak sampe ngotot pingin gajian? Tapi ucapan suami bagus juga Mbak, apalagi kalau gajinya tidak seberapa. Akhirnya tidak bekerja ya Mbak?

      Hapus
  5. Beberapa kali saya sempat minta ijin ke suami untuk bekerja kantoran, tapi tidak diperbolehkan, meski dalam hati sebenarnya berat menginggalkan anak di rumah dengan pengasuh. Alhamdulillah sampai sekarang tidak jadi orang kantoran di luar. Tulisan mbak menambah semangat saya untuk produktif dari rumah, terimakasih mbak ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. idem nasib kita Mbak, sampai sekarang saya juga belum merasakan bagaimana rasanya "ngantor" :) Bukan karena suami tidak ijinkan tapi Allah sepertinya ingin saya "ngantor" di rumah saja, Alhamdulillah. terimakasih sdh mampir Mbak Hida....

      Hapus
  6. Pada wilayah lain, realitas itu bisa jadi juga ingin menunjukkan bahwa nilai 25 ribu itu sebagai nilai yang besar... Maksud saya, bukan tidak mungkin di mata ibu guru2 tersebut nilai Rp25 ribu sdh layak, mengapa ? karena penghargaan pada mereka barangkali juga pada angka-angka tersebut.. Pesan terpentingnya adalah, kita sedang ditunjukkan betapa masih banyak tugas-tugas mulia nan penting yang tidak dihargai sepantasnya....

    BalasHapus

 
;