Jumat, 16 November 2012

Teknologi Seluler dan Kebangkitan Peran Perempuan

Sumber Foto : Web Merdeka

 Teknologi seluler telah mengubah secara radikal relasi sosial dan memberi perubahan sangat luar biasa dalam kehidupan masyarakat. Sebuah keadilan dan pemerataan dalam berkomunikasi telah tercipta. Simpul-simpul yang dulu menutup akses sejumlah orang terhadap berbagai kesempatan, kini mulai terbuka. Fisik dan geografis menjadi semakin tak berjarak, secara sosialpun masyarakat semakin tak bersekat. Sebuah kemajuan yang sangat patut disyukuri karena dengan begini terbuka kesempatan lebih luas bagi kelompok masyarakat bawah dan terpinggirkan untuk mengejar ketertinggalannya. Salah satu segmen masyarakat yang menemukan momentum kebangkitannya adalah kaum perempuan.

Secara kuantitas, jumlah perempuan hampir separuh dari total jumlah penduduk dunia. Untuk Indonesia, menurut hasil sensus BPS tahun 2010 jumlah perempuan adalah sebanyak 118.048.783 sedangkan laki-laki sebesar 119.507.580. Sayangnya, jumlah yang sangat besar ini belum diimbangi oleh kualitas peran dan kontribusi kaum perempuan secara signifikan. Dalam proses pembangunan misalnya, kaum perempuan lebih diposisikan sebagai objek. Dengan paradigma ini, hasilnya sangat jelas. Pembangunan seolah jalan di tempat. Program MDG’s misalnya. Meski telah berjalan dua pertiga dari waktu yang telah ditentukan, tidak banyak perubahan yang mampu dicapai. Kemiskinan dan pengangguran masih tinggi bahkan semakin tinggi, tingkat kesehatan dan pendidikan tetap rendah, perubahan iklim justru semakin menjadi. Akar dari berbagai permasalahan ini sebenarnya sudah sangat jelas, yakni melibatkan kaum perempuan secara optimal sebagai objek sekaligus subjek dalam setiap proses pembangunan.

Persoalannya kemudian, mencuatkan potensi dan peran perempuan dalam berbagai sektor kehidupan bukan persoalan mudah. Budaya dan sistem yang ada dan telah berlangsung dalam kurun waktu lama telah membelenggu kaum perempuan secara sistematis sebagai kelompok masyarakat kelas dua atau second class. Bertolak dari pemikiran ini, maka pemenuhan hak-hak dasar kaum perempuan seperti pendidikan dan kesehatan menjadi kurang diperhatikan. Dalam skala kebutuhan dasar lebih tinggi seperti akses terhadap informasi dan kesempatan untuk beraktualisasi, keadaannya lebih memprihatinkan. Masih segelintir kaum perempuan yang bisa memperolehnya. Secercah harapan besar kemudian bersinar ketika teknologi informasi dan komunikasi khususnya seluler berkembang demikian pesat dan memberi pengaruh spektakuler dalam kehidupan masyarakat termasuk kaum perempuan. Sebuah perubahan besar sudah menanti di depan mata.

Perempuan dan Perubahan

Menurut Charles Malik, seorang filsuf dan diplomat, cara tercepat mengubah masyarakat adalah dengan menggerakkan kaum perempuan sedunia. Ini bukan hanya omong kosong. Muhammad Yunus dengan konsep Grameen Bank dan Grameen Phone-nya mampu membuktikan bahwa jika diberi kesempatan, akses lebih besar dan dukungan lebih konkrit, kaum perempuan tidak hanya bisa dipercaya namun sekaligus mampu melakukan perubahan sangat revolusioner yakni berhasil melawan kemiskinan.

Patricia Aburdene & John Naisbitt dalam bukunya Megatrend for Women : From Liberation to Leadership (1993), menunjukkan sejumlah data bahwa peran perempuan dalam kepemimpinan semakin membesar. Semakin banyak wanita yang memasuki bidang politik, sebagai anggota parlemen, senator, gubernur, menteri, dan berbagai jabatan penting lainnya. Selain itu semakin banyak wanita yang menjadi pimpinan perusahaan dan sekaligus menjadi pemilik perusahaan. Sebuah fenomena yang juga mulai banyak dan mudah dijumpai di Indonesia. Trennya justru meningkat dari waktu ke waktu. Tidak hanya karena jumlah perempuan di Indonesia sangat banyak, namun semangat perubahan yang tinggi dan mau bekerja keras untuk berubah seolah telah menjadi salah satu karakter utama kaum perempuan Indonesia yang tak lekang oleh waktu sejak dulu hingga kini.

Sejak masa penjajahan kita telah memiliki sejumlah pahlawan perempuan yang memiliki andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa juga kemajuan kaumnya. Ada RA Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien dan masih banyak lagi. Semakin banyak perempuan berjiwa dan berperan pahlawan setelah kemerdekaan. Mereka menyebar ke banyak sektor kehidupan. Ada yang menjadi srikandi kesehatan di daerah kumuh dan terpencil. Ada pula yang mencerdaskan anak bangsa di berbagai daerah pelosok, miskin dan pinggiran. Kita juga memiliki jutaan pahlawan devisa yang tersebar di banyak negara.

Di antara perempuan-perempuan hebat berjiwa pahlawan itu, banyak yang melakukannya atas inisiatif sendiri. Bahkan bermodal sendiri dengan tujuan dan harapan agar terjadi perubahan lebih baik di negeri ini. Bagi para srikandi kesehatan, mereka tidak ingin ada lagi ibu yang meninggal dunia saat melahirkan atau anak Indonesia yang mengalami gizi buruk. Bagi Srikandi pendidikan, mereka tidak ingin ada lagi anak Indonesia yang bodoh sementara roda globalisasi terus berputar dan akan menggilas mereka yang tidak kompeten dan berdaya saing rendah. Mereka yang menjadi pahlawan devisapun tak gentar untuk berjuang di negeri orang meski sejumlah kasus yang menimpa tenaga kerja kita di luar negeri semakin parah dan bertambah. Semua bermuara pada satu tujuan dan harapan : sebuah perubahan.

Perempuan Indonesia juga terbukti mampu melakukan perubahan revolusioner seperti yang dilakukan oleh kaum perempuan di Bangladesh dengan Grameen Bank dan Grameen Phone-nya. Melalui Bank Gakin atau Bank Keluarga Miskin, sejumlah perempuan miskin dan berpendidikan rendah di sejumlah wilayah Indonesia mampu melakukan hal yang sama. Para ibu yang tergabung dalam Bank Gakin di Kabupaten Jember misalnya. Sebanyak 90 persen pengurusnya adalah perempuan. 46 persen di antaranya adalah lulusan sekolah dasar dan 5 persen tidak melewatkan pendidikan sekolah formal. Meski demikian, omzet bank gakin di Jember pada tahun 2009 lalu mampu mencapai Rp 14 miliar dengan aset Rp 2,1 miliar. Dengan pertumbuhan omzet dalam tiga tahun terakhir mencapai rata-rata 260%. Atas keberhasilannya ini, Bank Gakin Jember memperoleh MDG’s Award dan menjadi role model bagi bank gakin-bank gakin lain di tanah air. Fakta ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa kaum perempuan memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak utama perubahan di negeri ini. Mereka bisa menjadi pemutus mata rantai kemiskinan untuk kemudian menjadi pilar utama kekuatan ekonomi dan kemandirian bangsa.

Perempuan dan Teknologi
Perempuan dan teknologi bukan sekedar bermakna bertemunya sebuah produk dengan pasar potensial lalu menghasilkan keuntungan yang fantastis. Ini juga bisa berarti bertemunya dua kekuatan besar untuk melakukan sebuah perubahan revolusioner menuju masyarakat dan bangsa yang lebih maju dan berkualitas.

Era teknologi informasi adalah momentum kebangkitan peran perempuan. Tidak hanya karena pertumbuhan perempuan pengguna seluler melaju lebih cepat dari kaum laki-laki, dengan teknologi seluler di tangannya, perempuan dapat melakukan perubahan luar biasa. Tidak hanya untuk dirinya, tapi juga keluarganya bahkan juga untuk masyarakat dan negara. Teknologi telah melesatkan peran perempuan ke barisan terdepan sebagai penggerak utama perubahan di negeri ini.

Jika sebelumnya, dalam banyak hal perempuan seringkali dianggap lamban, terbelakang dan teringgal, nampaknya formula ini tidak berlaku ketika perempuan dihadapkan pada teknologi informasi. Meski secara totalitas masih kalah jumlah dengan kaum laki-laki, namun kecepatan pertumbuhan dan pemanfaatan teknologi secara optimal oleh kaum perempuan, sangat luar biasa.

Dalam penggunaan internet khususnya internet mobile misalnya. Menurut laporan mutakhir ‘The State of Mobile Web‘ yang dilansir oleh Opera Software, sejak dua tahun lalu pengguna internet mobile kaum hawa meningkat 575 persen. Secara komposisi, Opera juga memperkirakan peningkatan rasio pengguna internet mobile wanita, dari hanya 12 persen pada dua tahun lalu, kini menjadi 23 persen. Pengguna internet mobile dari kalangan pria tetap mendominasi, namun, pengguna wanita mengalami peningkatan yang lebih cepat mengejar ketertinggalan mereka dari kaum pria.

Afrika Selatan (43,5 persen), Amerika Serikat (35,6 persen), Rusia (32,4 persen), dan Inggris (31,5persen) menjadi negara-negara yang memiliki komposisi pengguna internet mobile perempuan terbesar. Sementara Indonesia berada di posisi ke-6 dengan persentase pengguna internet mobile perempuan sebanyak 21,3 persen. Angka ini mengalami peningkatan sejak dua tahun lalu, di mana Indonesia hanya memiliki 18 persen perempuan pengakses internet lewat ponsel. Adapun negara-negara yang memiliki komposisi pengguna internet mobile wanita terkecil adalah India (4 persen), Nigeria (5,4 persen), China (11,6 persen), dan Vietnam (17,9 persen).

Peningkatan kuantitas di atas juga dibarengi dengan sejumlah peningkatan secara kualitas. Jejaring social seperti Facebook dan Twitter misalnya menjadi sarana untuk berbagi sekaligus menggali informasi. Fenomena blogging kaum perempuan juga meningkat secara signifikan meski jumlahnya masih timpang dibandingkan blogger laki-laki, yakni sekitar 3 : 7. Meski demikian, kaum perempuan umumnya memiliki minat yang kompleks ketika menulis di blognya. Tak hanya sebagai ajang curhat dan berbagi informasi, blog juga acapkali menjadi ajang untuk berbisnis. Ini artinya, mereka tak hanya produktif secara social namun juga produktif secara ekonomi dan finansial. Yang tak kalah penting, aktivitas blogging juga memberi kesempatan bagi perempuan untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya ke seluruh penjuru dunia. Sesuatu yang bisa saja akan menginspirasi dan memberi perubahan.

Jika perempuan pengguna internet masih didominasi oleh kalangan menengah ke atas, pengguna telepon seluler atau ponsel lebih merakyat lagi bahkan hingga ke lapisan masyarakat terbawah. Di berbagai pelosok bahkan daerah pinggiran, kini semakin mudah dan banyak dijumpai perempuan pengguna ponsel. Harga handphone yang semakin terjangkau dan tariff seluler yang semakin murah kian membuka akses informasi dan komunikasi kaum perempuan. Kaum ibu tak perlu risau dan harus menyisihkan banyak uang bulanan untuk membeli pulsa jika mereka bisa memanfaatkan perang tariff yang kini gencar dilakukan para operator seluler di tanah air. Bahkan jika disikapi lebih bijak dan cerdas, banyak manfaat lain yang bisa diperoleh secara ekonomi. Tak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan gaya hidup (lifestyle), kehadiran ponsel juga bisa sekaligus memberi nilai tambah yang signifikan terhadap usaha yang dijalankan oleh kaum perempuan. Roda perekonomianpun semakin terkerek.

Tak hanya dalam aspek ekonomi, teknologi informasi juga memberi sejumlah manfaat besar lain bagi kemajuan kaum perempuan. Salah satunya yang terutama adalah sebagai sarana belajar yang efektif. Banyak perempuan Indonesia baik karena masalah budaya, ekonomi, hambatan geografis, kendala usia atau faktor keluarga dan sebagainya, tidak bisa mengenyam pendidikan formal lebih tinggi. Padahal, pendidikan sangat berpengaruh terhadap wawasan dan pengetahuan seseorang. Bagi seorang ibu, ini merupakan salah satu modal utama untuk bisa mencetak generasi muda cerdas berkualitas, bermoral dan berdaya saing tinggi.

Teknologi informasi yang semakin terjangkau dan memasyarakat khususnya internet memudahkan kaum perempuan untuk terus belajar sepanjang hidupnya (long life education) tentang banyak hal tanpa berbatas waktu, jarak juga usia. Semakin kaya dengan ilmu pengetahuan dan informasi, perempuan akan semakin berkualitas. Akan semakin besar kontribusi yang bisa ia berikan untuk masyarakat dan negeri ini.

Domestik Oke, Publik Yes!

Domestik vs publik acapkali menjadi dilema luar biasa bagi banyak perempuan Indonesia. Budaya patriarki dan ketimuran yang masih kuat melekat di masyarakat sering menyudutkan kaum perempuan untuk hanya memilih ruang domestik sebagai kodrat yang tak bisa disandingkan secara harmonis dengan ruang publik. Itu dulu, sebelum teknologi informasi hadir lalu menyamarkan sekat pemisah antara ruang domestik dan publik bagi kaum perempuan. Tembok itu memang belum sepenuhnya runtuh, namun dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat ditambah dengan tariff seluler yang semakin murah, kaum perempuan memiliki kesempatan lebih besar untuk merangkul keduanya lebih baik.

Bagi perempuan yang memilih bekerja secara aktif di luar rumah, urusan domestik (urusan rumah tangga dan anak-anak) tetap bisa dipantau dengan baik kapanpun dan di manapun. Teknologi informasi memungkinkan ibu bekerja tetap bisa menjalin komunikasi dan jalinan kasih dengan baik dengan seluruh anggota keluarga lain terutama anak-anak. Bagi ibu yang memilih menjadi fulltime mom alias ibu rumah tangga, tak ada lagi sekat yang menghalanginya untuk tetap terhubung dengan dunia luar. Iapun tetap bisa produktif baik secara social maupun financial.

Satu tren yang kini berkembang di kalangan perempuan adalah bekerja di rumah. Dengan kalimat lain, semakin banyak perempuan yang memiliki kesadaran dan kemauan untuk bisa merangkul dua dunia, domestik dan publik, secara bersamaan dalam hubungan yang harmonis. Di satu sisi, mereka ingin memberikan perhatian besar pada keluarga baik secara kuantitas maupun kualitas. Namun di sisi lain, mereka juga ingin produktif dan mandiri secara ekonomi. Mereka juga ingin memiliki kesempatan dan kebebasan yang kondusif untuk berekspresi dan beraktualisasi sebagai manusia yang merdeka. Sangat manusiawi dan tidaklah egois jika seorang perempuan menginginkan semuanya. Kehadiran teknologi informasi telah memungkinkan mimpi ini bisa terwujud. Kini semakin banyak ibu bekerja kembali ke rumah dengan tetap mempertahankan produktivitas dan kebanggaannya sebagai perempuan aktif, kreatif dan mandiri. Istilahnya, dengan teknologi, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Katalisator Kemajuan Masyarakat dan Bangsa
Perempuan dan teknologi adalah dua kekuatan besar yang bisa menjadi katalisator kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara. Teknologi telah melesatkan peran perempuan ke barisan terdepan sebagai penggerak utama perubahan di negeri ini. Memutus lingkaran setan kemiskinan, menggerakkan sektor riil, menciptakan lapangan kerja sekaligus mencetak generasi muda berkualitas. Meski demikian, kaum perempuan masih membutuhkan sejumlah dukungan dan kesempatan lebih luas dalam berbagai bidang kehidupan termasuk dalam hal penggunaan dan pemanfaatan teknologi informasi khususnya seluler secara lebih optimal.

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi. Pertama, meski teknologi seluler telah semakin merakyat, pada kenyataannya masih banyak kaum perempuan khususnya dari kalangan masyarakat bawah yang belum bisa memanfaatkannya secara bijak dan cerdas. Bahkan sekedar untuk memahami esensi dari perang tariff yang kini gencar dilakukan oleh perusahaan seluler di tanah air. Banyak yang terjebak dan menjadi korban dari perang tariff ini. Banyak pula yang masih menganggap ponsel lebih sebagai pemenuhan kebutuhan gaya hidup bukan sekaligus penunjang kualitas hidup.

Dalam konteks di atas, perusahaan seluler sebagai penyedia layanan seluler yang telah meraup banyak keuntungan di mana di antaranya (bahkan mungkin terbanyak) disumbang oleh kaum perempuan, dapat melakukan peran nyata sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kontribusi terhadap akselerasi kemajuan masyarakat dan bangsa. Salah satunya bisa melalui iklan yang bersifat edukatif kepada kaum perempuan agar lebih bijak dan produktif dalam menggunakan telepon seluler. Jika perlu, diberi gambaran lebih konkrit bagaimana implementasi nyatanya dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, indikasi kebangkitan peran perempuan memang semakin nyata dan terus meningkatkan. Namun, benih-benih kebangkitan tersebut masih bersifat sporadis. Perlu ada mobilisasi dan pelembagaan agar potensi perempuan lebih terakomodir. Salah satunya dengan menghidupkan kembali organisasi, perkumpulan atau komunitas perempuan dalam berbagai bidang. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Dengan bersatunya kaum perempuan dan segenap potensi yang mereka miliki, maka roda perubahan menuju masyarakat, bangsa dan negara yang maju dan sejahtera akan bergerak lebih cepat dan lebih optimal.

Saatnya kita jadikan booming teknologi informasi dan tarif seluler murah saat ini sebagai momentum kebangkitan peran perempuan menuju masyarakat dan bangsa yang berkualitas. Tunggu apa lagi, mari kita dukung dan buktikan……


Tulisan ini menjadi Pemenang Ketiga dalam ajang XL Award 2010 Kategori Karya Tulis 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;