Sabtu, 03 November 2012

Di Balik Kemenangan : Antara Baby dan Kompetisi


Perkiraan persalinan melalui operasi Caesar karena posisi bayi yang sungsang membuat saya mengabaikan skripsi yang sebenarnya hanya tinggal revisi sedikit lagi sebelum maju ujian. Persyaratan administrasi ujian bahkan sudah saya urus, namun ketakutan akan menjalani persalinan pertama apalagi dengan perkiraan operasi, membuat saya sangat khawatir dan ketakutan. Untuk yang satu ini saya benar-benar menyerah.


Usai melahirkan dua minggu, saya kembali ke kampus untuk meneruskan penyelesaian skripsi yang tertunda. Hanya sekali, setelah itu saya kembali menyerah. Begitu susah membagi waktu dan konsentrasi antara baby dan skripsi. Apalagi saya mengurusnya sendiri bersama suami. Tanpa tau kapan akan melanjutkan, skripsi kembali saya tinggalkan. Tepat pada saat itu, seorang teman di Jakarta memberitahu bahwa Bank Indonesia mengadakan lomba karya tulis mahasiswa yang rutin diadakan setiap tahun. Tahun sebelumnya saya menjadi finalis, presentasi di Jakarta tapi belum berhasil menjadi pemenang. Untuk yang satu ini saya tak ingin melewatkan dan menyerah. Saya bisa mengerjakannya di rumah tanpa harus meninggalkan si kecil. 

Tema yang saya ambil adalah perbankan syariah sebagai role model dalam arsitektur perbankan Indonesia atau API. Saya berusaha mengoptimalkan bank data yang saya miliki sebaik mungkin agar tidak perlu banyak ke luar rumah. Terkadang saya meminta bantuan teman untuk menyuplai data. Jika terpaksa mencari data tambahan sendiri, baik ke perpustakaan ataupun warnet (jaman itu internet masih sangat langka :) ), si kecil hampir selalu saya bawa. Padahal usianya waktu itu kira-kira baru 4-6 minggu. Saya berusaha untuk tegar. Tapi ketika saya harus mengetiknya di komputer sementara deadline seolah berlari kencang, sebuah masalah baru timbul. Entah mengapa setiap kali saya akan mengetik, dia tidak mau digendong siapapun selain saya. Padahal kesempatan saya untuk menggunakan computer sangat terbatas. Karena di rumah kontrakan belum ada komputer, terpaksa saya nebeng di rumah ortu suami tiap kali mau menulis. Belum lagi jika harus antri dengan yang lain karena komputernya hanya satu. Akhirnya, saya mengetik hanya dengan satu tangan sementara tangan yang lain memegangi si kecil. Ternyata mengetik dengan satu tangan sulit sekali. Saya melakukannya sambil sesekali menangis dan ingin rasanya menyerah saja. Baru terasa betapa susahnya menjadi seorang ibu.

Berhasil melalui proses penulisan yang berat dan banyak tantangan membuat saya merasa telah menjadi pemenang hanya dengan bisa menyelesaikan dan mengirimnya ke Jakarta. Alhamdulillah saya kembali terpilih sebagai finalis. Bank Indonesia memberitahu hal itu sehari sebelumnya melalui telepon. Tanpa berpikir panjang saya memutuskan menyanggupi panggilan itu meski harus membawa si kecil yang belum genap lima bulan ikut ke Jakarta. Akhirnya bersama si kecil, suami dan ibu yang nanti akan menjaga selama saya presentasi, kami berangkat ke Jakarta. Rombongan yang tidak lazim ini menjadi tontonan peserta lain sesampainya di hotel Millenium. Entah apa yang ada dalam pikiran para mahasiswa dari berbagai universitas tersebut, para dosen pendampingnya juga panitia yang berasal dari Universitas Negeri Jakarta itu. Merasa aneh atau justru kasihan. Ada rasa malu jika mengingatnya.

Jika peserta lain bisa konsentrasi penuh pada presentasi, tidak demikian dengan saya. Tenaga dan konsentrasi terkuras karena perjalanan yang jauh meski dengan pesawat, ditambah dengan rombongan yang besar. Ada rasa sedih dan kecewa yang cukup mendalam ketika ternyata saya kembali hanya berhasil sebagai finalis seperti tahun sebelumnya. Saya merasa apa yang saya dapat tidak sebanding dengan pengorbanan saya selama ini.

Cerita tentang si kecil dan kompetisi masih berlanjut. Tepatnya satu tahun kemudian ketika saya menjadi pemenang pertama dalam lomba karya tulis perpajakan untuk kategori mahasiswa. Sampai saat itu saya belum juga bisa menyelesaikan skripsi sehingga saya masih tercatat sebagai mahasiswa. Di balik rasa senang karena menang, apalagi bisa “mengalahkan” mahasiswa pascarjana ITB yang menduduki posisi kedua dan mahasiswa Universitas Indonesia di peringkat ketiga, ada cerita lain yang cukup dilematis.

Satu jam sebelum panitia menelpon agar saya hadir pada hari Keuangan di Jakarta, si kecil masuk rumah sakit karena diare. Hari di mana saya harus ke Jakarta, si kecil di perkirakan masih belum pulang dari rumah sakit. Panitia bingung ketika saya menyatakan tidak bisa hadir karena ternyata hanya pemenang pertama dari masing-masing kategori yang diundang ke Jakarta. Karena dukungan keluarga dan tim medis meyakinkan si kecil akan baik-baik saja dan akan semakin membaik, akhirnya saya berangkat ke Jakarta. Wow, berat sekali harus meninggalkan si kecil di rumah sakit meski kondisinya sudah semakin baik.

Pengalaman menjadi seorang Ibu di tengah kancah kompetisi membuka mata hati saya, begitu superhero-nya seorang ibu. Dedikasinya yang sering dianggap sebelah mata sebenarnya adalah kerja yang sangat luar biasa. Keikhlasannya membuat jasa mereka tidak bisa diukur dengan materi. Bahkan, Allah mengatakan jika saja dunia dan seisinya dipersembahkan pada seorang Ibu untuk menggantikan segala cinta dan pengorbanannya pada anak-anaknya, maka itu takkanlah cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;