Kamis, 08 November 2012

Dahsyatnya Menulis di Media....

Hari ini, secara tidak sengaja saya membaca beberapa status, note maupun artikel di blog yang membahas tentang menulis opini di media massa. Saya jadi teringat bagaimana kesan pertama dan efek dari dimuatnya tulisan saya di sebuah media beberapa waktu lalu. Memang luar biasa......:)

Sabtu, 27 November 2010, saya memungut Jawa Pos yang diselipkan di bawah pintu oleh loper koran. Dengan tak bersemangat saya membukanya. Ya, ini sindrom yang biasa saya alami jika baru mengirimkan artikel ke sana. Takut untuk melihat halaman opini, takut kecewa melihat tidak ada tulisan saya dimuat di sana. Biasanya begitu. Tapi saya memberanikan diri untuk melihatnya, kenapa harus takut? Artikel gak dimuat kan sudah biasa.

Baru beberapa detik melihat halaman opini langsung saya tutup kembali. Ekspresi saya ketika itu begitu surprised, mungkin seperti orang yang baru saja menang undian atau baru dilamar. Ada artikel saya di sana...:)

Akhirnya, setelah belasan artikel saya kirim dalam beberapa tahun terakhir, ada juga yang dimuat. Dalam beberapa menit saya merasa seperti mimpi. Tapi kemudian biasa lagi, bukan sesuatu yang perlu dieuforiakan lama-lama. Bukan sesuatu yang teramat begitu istimewa, pikir saya. Bagi sebagian orang, dimuat itu sudah sangat biasa. Saya tidak ingin terkesan "ndeso" karena bersikap berlebihan...:)

"Memutus Lingkaran Setan TKI", inilah judul artikelnya. Judul aslinya Entrepreneurship Untuk TKI. Tulisan ini terinspirasi oleh status Bayu Insani dan Akhi Dirman Al Amin beberapa hari sebelumnya yang membahas masalah TKI. Saya tulis Jumat pagi ba'da sholat subuh sampai kira-kira jam delapan pagi sembari mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa. Menyiapkan sarapan dan bekal Sasha sekolah, memandikan anak-anak, cuci piring juga. Laptop juga sempat saya matikan beberapa puluh menit. Jadi, artikel itu saya tulis kurang lebih dua jam. Mengalir begitu saja, mungkin karena saya menulisnya dengan hati, minim referensi.

Setelah berhasil "send" sekitar jam 9, saya membaca harian Kompas. Kebetulan kami berlangganan dua koran. Jika Jawa Pos dikirim pagi, Kompas agak siang. Ups, Kompas hari itu ternyata membahas masalah TKI hampir sama dengan jalan pikiran saya di artikel. Sempat lemas, ide saya sudah basi donk. Tau sudah dibahas di Kompas, mungkin tidak jadi saya kirim ke Japos. Menambah daftar kekecewaan saya saja. Ternyata tidak, esoknya ternyata artikel yang saya kirim langsung dimuat dengan perubahan judul.

"Redakturnya kasihan kali, ngirim gak pernah dimuat..." komentar suami saya begitu tau artikel saya dimuat. Setelah ia mengucapkan "selamat". Haha, mungkin saja.

Merasa "pesan" saya tak sampai dengan sepenuhnya, saya menulis lagi dengan tema besar yang sama, entrepreneurship dan TKI. Hari itu juga, kurang lebih dua jam juga, dan langsung saya kirim begitu selesai. Kurang lebih dua minggu setelah pengiriman, Alhamdulillah artikel itu dimuat di Harian Surya. Tak terduga juga karena seperti biasa, saya hampir melupakannya.

Saya cepat melupakan dua artikel yang dimuat itu. Tapi ternyata efeknya cukup lama. Tiba-tiba saja saya menjadi "terkenal", hehehe. Saya banyak mendapat ucapan selamat karenanya. Teman lama, teman dekat, mantan dosen bahkan ketika proses wawancara saat ujian masuk pascasarjana, dosen yang menginterview mengatakan dia juga membaca artikel tersebut sehingga saya harus mereview lagi isinya. Alhasil, sesi wawancara saya lebih lama dari calon mahasiswa lain.

Berhasil menembus media memiliki kebahagiaan tersendiri. Lebih dari itu, saya semakin termotivasi bahwa menembus media itu bukan tidak mungkin. Pastinya memerlukan ketelatenan, terus belajar dan mencoba, serta tidak putus asa.

Masih banyak hal positif lain yang bisa kita dapatkan di jalur ini, menulis di media....

Selamat Mencoba Teman.....

2 komentar:

  1. sayangngya koran kompas (regional) dan saudaranya (koran Surya) sejak awal 2011, sudah tak memberi ruang buat penulis luar (lepas). Padahal sejak 2006 hingga 2010, pernah menjadi ladang untuk menanam kata-kata.

    Salam dari ladang,
    http://pencangkul.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Pak, turut menyayangkan :) di Surya saya hanya sempat dimuat sekali, di minggu-minggu terakhir sebelum rubrik itu ditiadakan....

      Hapus

 
;