Jumat, 16 November 2012

Belajar dari Kekalahan XL Award

Pada XL Award 2010 lalu, Alhamdulillah saya menjadi salah satu pemenangnya (tulisan bisa dilihat di http://ririnhandayani.blogspot.com/2012/11/eknologi-seluler-dan-momentum.html). Kemenangan yang tidak terduga sekaligus tidak terlalu mengejutkan sebenarnya. Karena saya sempat berpikir tidak akan menang (mengingat banyak tulisan peserta lain yang bagus-bagus) dan seperti biasa saya lebih mempersiapkan diri untuk kalah. Bagi saya, selain sebagai anugerah dan kemurahan-Nya, kemenangan pada XL Award 2010 adalah pembuktian bahwa kita bisa belajar banyak pada kekalahan-kekalahan sebelumnya.


Ya, sebelum akhirnya menang, saya telah dua kali kalah pada XL Award sebelumnya. Pada XL Award 2010 atau yang ketiga kalinya, saya bertekad mengubah kekalahan itu menjadi kemenangan, Alhamdulillah berhasil.

Tema besar yang saya angkat pada tulisan tahun lalu dan tahun ini sebenarnya hampir sama, perempuan dan teknologi. Tapi kali ini lebih focus. Tulisan tahun lalu juga saya rangkum menjadi opini singkat dan menjadi salah satu opini terbaik untuk periode 2 mingguan pertama di Facebook. Kenapa saya tidak ganti dengan tema lain?

Pada dasarnya, pemberdayaan perempuan merupakan salah satu tema favorit saya. Jadi, dari awal saya memang ingin menulis tentang ini. Sebelumnya, saya ingin menulis tema ini dalam versi artikel opini surat kabar. Namun karena begitu banyak yang ingin saya ceritakan, saya menuliskannya versi blog sehingga memuat isi dua kali lebih banyak. Proses menulisnya sendiri hanya sekitar 2 jam.


Kenapa tulisan ini menjadi salah satu pemenang?

Dewan juri yang lebih tau dan Allah yang berkehendak. Tapi menurut beberapa teman, tema mengenai perempuan memang sedang booming.

Teman-teman yang bertekad menjadi pemenang pada XL Award selanjutnya sebenarnya bisa membaca garis merah persamaan antar tulisan pemenang XL Award tahun ini. Kesemuanya bercerita tentang bagaimana teknologi seluler sangat diperlukan dan seharusnya mampu mengubah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Selain focus, mereka juga memberi contoh nyata yang benar-benar sedang terjadi secara actual di masyarakat. Tentang Indonesia Mengajar misalnya, mewakili bidang pendidikan. Tentang batik mewakili ekonomi kreatif dan kerakyatan, tulisan saya mewakili masalah kebangkitan dan urgensi peran perempuan. Pemenang yang lain mengangkat tentang daerah tertinggal di perbatasan. “selera” juri sebenarnya bisa dipelajari dari karakter tulisan-tulisan yang menang.

So, buat teman-teman yang tahun ini belum menjadi pemenang, kesempatan itu masih terbuka lebar. Jadikan kekalahan sebagai cambuk semangat untuk berusaha lebih baik lagi dan tak ada salahnya belajar dari kemenangan pemenang sebelumnya. Kalimat “kekalahan adalah kemenangan yang tertunda” sungguh bukan omong kosong belaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;