Jumat, 16 November 2012

Bahagia Jadi “Istri Kedua”

Tiba-tiba teringat percakapan beberapa tahun lalu, di sebuah diskusi rutin setiap Ahad pagi. Suasana berbeda karena ada kabar bahagia dari seorang senior yang akan menyempurnakan separuh Dien-nya. Konon, si senior ini berazzam menikah di awal usia 20-an. Berbagai proses telah dicoba, doa apalagi. Sudah sangat maksimal. Tapi, kehendak Allah adalah misteri yang sukar diterka. Ia baru menemukan sang ”pasangan jiwa” saat usianya sudah kepala tiga. Berarti, lebih dari sepuluh tahun ia menunggu. Sebuah penantian yang sangat panjang …….


 ”Mbak, kabarnya mau menikah ya?” tanya seorang teman to the point. Mewakili rasa penasaran anggota forum lain yang sudah tak sabar ingin tau siapakah pria beruntung yang menjadi ”jawaban” dari doa dan ihktiar panjang senior kami ini.

”Iya…” jawab si Mbak tersipu. ”Alhamdulillah, jadi ”Istri Kedua” hahhhh, kami terperangah bersama. Duh, lama-lama menunggu koq jadi istri kedua sih Mbak? Bisik-bisik kami di belakang.

”Sejak lama saya memang bersedia dipoligami” terangnya kemudian. Hmmm….salut juga.

”Saya bersedia menjadi ”istri kedua”, dan biarlah DAKWAH menjadi ”istri pertama” suami….” Ohhhh, kami melongo hampir bersamaan.

”Sebagai ’istri kedua’, saya harus siap berbagi bahkan dinomorduakan. Kalau perlu, saya harus mendorong suami agar lebih mengutamakan ’istri pertama’nya…… ”. Suasana kemudian menjadi khusyuk.

Sekian tahun telah berlalu, tapi topik diskusi pagi itu kerap menjadi renungan penuh makna terutama ketika saya mulai kehilangan orientasi kemana biduk ”rumah tangga” akan dikayuh. Motivasi semakin kuat untuk menjadikan rumah tangga sebagai sarana untuk memperbaiki diri dan keluarga menjadi lebih baik di mata Allah saat membaca atau mendengar kisah-kisah serupa. Tentang istri-istri yang menjadi ’istri kedua’. Pasti bukan hal yang mudah. Harus siap berbagi dan mengalah bahkan pada saat-saat kita sangat membutuhkan suami ada di samping kita. Saat hamil dan melahirkan misalnya. Atau ketika sedang sakit. Di sisi lain kita juga harus siap mendorong dan menyemangati suami agar terus istiqomah dalam dakwah. Ah, ”poligami” yang indah…….

Semoga bagi istri-istri yang seperti ini, kelak bisa melewati titian ’sirotholmustaqim’ secepat kilat. Amien.

7 komentar:

  1. setuju banget, kalo diduakan seperti ini ^-^V

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iya Mbak Rina, terimakasih sudah mampir :)

      Hapus
  2. ada yg py kenalan bt jd istri ke dua?hehe..

    BalasHapus
  3. nama ukhti,mrip dg istri saya,ririn hidayati

    BalasHapus
  4. Andai ada seorang laki2 yang bisa menjadi imam shalat ku & anak2 ku, mjd kan aq sebagai wanita yg bnr2 solehah, membimbing ku & anak2 ku mjd manusia yg lbh baik lagi. amiinn

    BalasHapus
  5. alhamdulillah kalau memang sudah pada memahami, semoga kebahagiaan selalu kepada orang2 taat dn ikhlas

    BalasHapus

 
;