Jumat, 02 November 2012

Aku Pasti Bisa!

Saya menikah ketika masih aktif kuliah. Mungkin inilah salah satu revolusi terbesar lain dalam hidup saya. Di sela-sela masa kehamilan dengan morning sick yang cukup parah, saya memulai mengerjakan tugas akhir skripsi. Kebetulan pada waktu itu, Media Indonesia, Metro TV dan BBC Siaran Indonesia mengadakan lomba menulis untuk mahasiswa.

Ada dua masalah besar yang saya hadapi ketika itu. Pertama, kondisi tubuh yang sangat lemah. Morning sick membuat saya hanya bisa terbaring di tempat tidur selama hampir 3 bulan. Saya merasa terhempas ke dunia lain yang sangat asing dan nyaris tak memiliki denyut kehidupan. Nyaris membuat rasa percaya diri saya runtuh. Bagaimana tidak, beberapa bulan sebelumnya saya masih aktif dengan beberapa kegiatan kemahasiswaan sekaligus. Kegiatan saya sepanjang hari selalu padat dari pagi hingga malam. Tempat kos hanya menjadi tempat untuk numpang mandi dan tidur. Saya merasa sangat energik dan dunia terasa begitu dinamis. Saya merasa bisa melakukan apapun dan kapanpun. Tapi kemudian, kehamilan membuat saya menjadi makhluk yang begitu lemah bahkan makan dan sholatpun sering hanya bisa saya lakukan sambil berbaring.

Tubuh boleh lemah, tapi semangat tidak boleh menyerah. Saya bertekad untuk tidak melewatkan lomba menulis itu. Sekuat tenaga saya mencoba meyakinkan diri bahwa saya bisa bagaimanapun kondisi saya saat itu. Tapi kendala lain menghadang : tema. Panitia membagi peserta lomba dalam beberapa region dengan tema yang berbeda. Untuk wilayah Jawa Timur temanya adalah seni. Tema yang kurang familiar dan jujur, kurang saya minati.

Sedikit demi sedikit saya berusaha membangun kekuatan untuk bangkit. Saya mulai mencari ide tentang apa yang akan saya tulis. Saya buka lagi memori dan stock of knowledge saya yang terbatas tentang seni. Satu minggu berlalu saya masih blank. Sampai akhirnya saya ingat satu berita yang dulu pernah saya liput sewaktu bergabung dengan UKM Jurnalistik yakni musik Patrol, musik tradisional orang Madura yang mulai dilupakan. Apreasiasi dan upaya pelestarian terhadap musik inilah yang saya angkat menjadi tema tulisan. Agar tulisan semakin berbobot saya berusaha mencari data yang relevan di perpustakaan maupun di UKM Kesenian hingga pada para pelaku musik Patrol sendiri. Dengan tubuh yang lemah, rasa mual dan ingin muntah yang tak mau kompromi, ditambah hujan yang mengguyur Kota Jember hampir setiap hari, saya tetap tak mau menyerah dan yakin pasti bisa menyelesaikan tulisan untuk lomba tersebut.
Waktu pengumuman relatif lama dan nyaris sudah saya lupakan, kurang lebih dua bulan. Media Indonesia mengundang saya ke Surabaya melalui surat tanpa penjelasan apakah saya menang atau tidak. Awalnya saya tidak tertarik datang karena kehamilan yang sudah hampir memasuki bulan kedelapan lagipula saya tidak yakin menang. Saya pikir hanya undangan biasa karena pengumuman pemenang disatukan dengan sebuah seminar tentang pendidikan bertempat di sebuah hotel di Surabaya. Telpon panitia yang meminta kepastian kehadiran saya akhirnya memaksa saya untuk datang.

Dengan perut yang semakin besar meski terkadang banyak orang tidak menyangka saya sedang hamil, saya tidak bisa menikmati seminar pendidikan yang dilaksanakan di awal acara. Ketika peserta lain, baik mahasiswa, dosen, wartawan dan sebagainya hanyut dalam diskusi yang menarik dengan tokoh pendidikan kawakan, Arif Rahman, saya justru meringis di pojok ruangan merasakan perut yang sakit akibat guncangan selama 5 jam perjalanan Jember-Surabaya. Belum lagi keinginan untuk ke kamar kecil yang berulang kali.

Saya hanya melongo, antara tak percaya dan sakit perut ketika pembawa acara menyebut nama dan tulisan saya sebagai pemenang pertama dalam lomba menulis tersebut. Butuh beberapa waktu untuk meyakinkan diri sebelum melangkah ke panggung, di mana Andi F.Noya telah menunggu untuk memberi ucapan selamat dan hadiah.

4 komentar:

  1. hebat banget smangaat mbak Ririn yang kuat seperti lempengan baja. Patut diteladani nih, very inspired me, pokoknya. Sekali lagi SALUT !

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih sudah mampir Mbak Tanti. Ayo cerita balik...:)

      Hapus
  2. Weiiihh....kok mirip ya? pas sy setelah nikah cuman udah lulus, kemudian hamil 9 bulan, dipanggil sebgai pemenang tapi pemenang harapan 1 di radar kediri--hehe lokal.malu diatas panggung tapi sueneng...tulisan diatas bener2 menggambarkan, I'am the winner :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat ya Mbak Nurul, di manapun levelnya, kalau diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, pasti mengesankan :) Setiap perjuangan pasti punya ceritanya masing-masing :)

      Hapus

 
;