Jumat, 09 Desember 2011

Antara UBS, Citibank dan Bank Syariah



Kasus pembobolan bank terbesar di Swiss, Union Bank of Switzerland (UBS) beberapa waktu lalu, menuai banyak kecaman sekaligus ketidakpercayaan banyak pihak. Setidaknya karena tiga alasan. Pertama, selama ini bank-bank di Swiss dikenal sebagai tempat yang paling aman untuk menyimpan uang. Kedua, pembobolan itu dilakukan oleh karyawannya sendiri. Ketiga, pembobolan bank oleh orang dalam bukan kali pertama di Eropa sehingga seharusnya korporasi perbankan telah memetik pelajaran dari kasus-kasus sebelumnya.

Pembobolan UBS oleh Kweke Adoboli, pialang UBS di bagian bank investasi telah mengakibatkan kerugian senilai USD 2 miliar atau sekitar Rp 17 triliun. Saham UBS juga melorot hingga 8 persen di saat saham-saham sektor perbankan Eropa lainnya mengalami kenaikan 1,3 persen sebagai dampak sentimen positif dari komitmen menyelamatkan Yunani.

Kasus pembobolan bank oleh orang bank sendiri dalam jumlah besar bukan kali ini saja terjadi di Eropa. Sebelum kasus Kweke Adoboli di UBS Swiss, nasabah bank di Eropa telah dihebohkan oleh kasus Jerome Kerviel, karyawan Societe Generale, bank terbesar di Prancis dengan total kerugian mencapai USD 6,7 miliar atau sekitar Rp 59 triliun pada 2008 lalu. Kasus serupa juga terjadi pada tahun 1995, yakni pembobolan Barings Bank di Inggris oleh karyawannya, Nick Leeson dengan kerugian sebesar USD 1,3 miliar. Karena kasus ini, Barings Bank yang sudah berdiri ratusan tahun akhirnya bangkrut.

Untuk Indonesia, kasus pembobolan bank oleh orang dalam juga kerap terjadi. Salah satu yang masih sangat segar dalam ingatan kita bersama adalah kasus Malinda Dee. Sama halnya dengan Kweke Adoboli, Jerome Kerviel dan Nick Leeson, Malinda juga menyalahgunakan wewenangnya sebagai relationship manager di Citibank untuk memanipulasi data serta mengalihkan dana milik nasabah ke rekening miliknya. Aksi yang konon telah berlangsung selama tiga tahun setidaknya merugikan nasabah hingga Rp 20 miliar. Atas kasus tersebut, Citibank menegaskan bahwa dana nasabah tetap aman. Hal sama yang juga dtegaskan oleh UBS. CEO UBS Oswald Gruebel dan timnya juga berjanji akan melakukan segala cara untuk mencari tahu asal muasal kejadian tersebut. Adoboli sendiri telah ditangkap pihak kepolisian pada 15 September lalu, hanya selang beberapa jam setelah kasus pembobolan diumumkan ke publik.

Pelajaran Berharga

Kasus pembobolan bank oleh orang dalam (insider fraud) meski tidak sampai menimbulkan kepanikan masyarakat seperti yang terjadi pada Citibank dan UBS, tetap saja mencederai reputasi korporasi yang bersangkutan. Dari kasus dua bank tersebut kita bisa mengambil sejumlah pelajaran berharga.

Pertama, jika bank yang berpredikat sangat baik dan sangat aman seperti UBS saja berhasil dibobol oleh karyawannya sendiri, sangat wajar jika publik terutama nasabah merasa khawatir dan mempertanyakan keamanan uangnya di bank yang tidak memiliki reputasi sebaik UBS. Ini artinya, meski kasus ini tidak sampai menimbulkan kepanikan, bagaimanapun kepercayaan masyarakat telah tercederai.

Kedua, kasus semacam ini tidak bisa dianggap remeh karena bisa berdampak luas terutama jika terus berulang apalagi dengan kerugian yang sangat besar. Sejarah telah mencatat bahwa Barings Bank yang berusia ratusan tahun akhirnya bangkrut karena kasus yang sama. Artinya, kita harus waspada dan mengantisipasi sedini dan sebaik mungkin agar masalah ini tidak terulang atau paling tidak berupaya meminimalisir resiko yang mungkin ditimbulkan.

Ketiga, kasus UBS juga kembali mengingatkan kita betapa pentingnya masalah integritas sumber daya manusia. Karena sehebat apapun sistem perbankan yang diterapkan, jika aspek humanware (perangkat manusia) yang mengawakinya tidak memiliki integritas dan komitmen, maka sistem tidak akan berjalan sempurna. Artinya, selain ditopang oleh sistem perbankan yang optimal, payung hukum yang memadai, perbankan juga perlu didukung SDM perbankan yang tidak hanya handal dan professional namun juga memiliki integritas tinggi.

Keempat, bagi bank syariah ini merupakan momentum baik untuk kian mengukuhkan keunggulan-keunggulannya dari sistem perbankan konvensional terutama dalam meminimalisir terjadinya fraud atau kecurangan yang dilakukan oleh orang dalam (insider fraud).

Kelebihan Bank Syariah

Menurut teori The Fraud Triangle, salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku manusia untuk melakukan fraud (kecurangan) adalah tidak adanya integritas individu di dalam melakukan tugas dan tangung jawabnya selaku pegawai perusahaan. Ada tiga faktor yang secara bersama-sama menyebabkan kecurangan yaitu motive, perceived opportunity, dan integrity. Dari ketiga faktor ini, integritas menjadi kunci utama untuk meminimalisir terjadinya tindak kecurangan. Integritas yang baik akan mereduksi motif dan mengabaikan kesempatan untuk melakukan kecurangan. Begitu pula sebaliknya.

Maraknya kasus perbankan akhir-akhir ini juga dinilai sebagai akibat dari lemahnya praktik, implementasi dan atau dilanggarnya prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG). GCG sendiri pada intinya adalah mengenai suatu sistem, proses, dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders) terutama dalam arti sempit hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris, dan dewan direksi demi tercapainya tujuan organisasi. GCG dimaksudkan untuk mengatur hubungan ini dan mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan (mistakes) signifikan dalam strategi korporasi dan untuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diperbaiki dengan segera.

Secara umum, konsep dan prinsip GCG sejalan dengan GCG perbankan syariah. Namun, GCG bank syariah memiliki kelebihan yakni ia terkonstruksi atas dimensi horizontal dan vertikal secara integral. GCG perbankan syariah merupakan refleksi integral antara ibadah dan muamalah yang bersandar pada nilai-nilai Illahiah. Sehingga seluruh subyek, obyek dan aktivitas perbankan syariah terbingkai dalam formula yang Islami yang akan dipertanggungjawabkan secara langsung kapada Sang Khalik. Mekanisme semacam ini sama sekali tidak tersentuh oleh CGC perbankan konvensional yang hanya mengatur hubungan dan pertanggungjawaban secara horizontal berlandaskan nilai-nilai etika.

Dengan mekanisme yang holistik seperti ini, sejauh ini bank syariah mampu membuktikan dan menjaga konsistensi keamanannya dalam menjaga amanah nasabah. Sementara bank konvensional semakin menunjukkan kelemahan-kelemahannya. Bahkan bank yang memiliki reputasi sangat baikpun bisa kebobolan. Wallahualam.


Harian Kontan, 30 September 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
;