Jumat, 10 April 2009

Mengapa Saya Memilih Lomba Sebagai Ajang Aktualisasi diri?

Awalnya saya hanya ingin menulis dan terus menulis hingga suatu saat saya benar-benar bisa menulis. Dan untuk itu saya merasa membutuhkan penilaian dan masukan dari orang lain yang memang expert sehingga masukan yang diberikannya akan semakin mengakselerasi proses belajar dan kemampuan saya menulis. Tapi saya tidak tau harus ke mana dan pada siapa. Teman, dosen atau siapa?


Untuk pilihan pertama, saya tidak yakin bisa menemukan orang yang tepat yang bisa memberikan pendapat yang membangun terhadap tema yang saya tulis mengingat bahwa mahasiswa seperti itu adalah populasi langka dalam dunia akadamik kita yang semakin hedonis dan apatis. Belum tentu juga mereka tertarik pada dunia tulis menulis. Untuk bersharing ria dengan dosen, saya tidak yakin mereka mau dan punya waktu untuk membaca dan memberikan komentar terhadap tulisan saya di antara kesibukan-kesibukan dan bahasan intelektual tingkat tinggi mereka. Apalah artinya tulisan picisan saya yang datar dan basi banget.

Di atas semua alasan-alasan ini sebenarnya ada alasan yang lebih kuat yakni saya tidak pede tulisan saya dibaca orang lain, apalagi orang yang saya kenal dan mengenal saya. Bisa-bisa gobloknya ketauan. Sedangkan kalau mengirimkan ke media massa, saya sudah yakin tulisan saya tidak masuk kualifikasi. Sebuah kesia-siaan, pikir saya waktu itu. Lalu ke mana tulisan-tulisan saya sekarang harus berguru?


Setelah berpikir cukup lama, tiba-tiba muncul ide untuk ikut lomba menulis. Ide itu tidak serta merta bisa direalisasikan. Pertama karena saya tidak punya informasi tentang lomba. Kedua, saya tidak tau bagaimana caranya karena selama empat semester kuliah, pembicaraan tentang hal itu nyaris tak terdengar baik dalam obrolan teman-teman seangkatan maupun kakak-kakak senior. Bahkan saya menangkap, lomba menulis apalagi menjadi pemenang seolah merupakan salah satu utopia yang sangat tidak mungkin. Begitu melangit untuk dicapai orang-orang bumi dengan kapasitas intelektual pas-pasan.


Mungkin saya harus melakukannya sendiri, hibur saya pada diri sendiri. Memikirkan sendiri, mencita-citakannya sendiri, cari informasi sendiri, menulis dan berjuang sendiri untuk meraih kemenangan.

2 komentar:

  1. semakin banyak membaca kok semakin ragu buat nulis ya mbak.. gmn ini bingung. ada semacam keraguan akan kualitas tulisan saya--mngkin semacam beban moral ketika tulisan itu sampai di pembaca. aduh..

    BalasHapus
  2. Semua penulis merasakan hal yang sama, harus memulai, meski hanya satu dua kalimat, secara konsisten nanti akan berkembang menjadi paragraf dan seterusnya. Coba cek tulisan saya yang berjudul "Pena Tak Bertinta" dan "Penulis Besarpun Pernah Gagal". Problem kita sama....:)

    BalasHapus

 
;