Minggu, 04 November 2018

Menyiapkan Generasi Muda Tanggap 1000 Hari Pertama Kehidupan


“Kalian tahu ‘stunting’”? tanya saya pada anak-anak yang sedang asyik menonton tivi. Kedua putri saya, Sasha (14 tahun) dan Naura (10 tahun), mengeryitkan wajah tak paham hampir bersamaan.

“Stunting. S-T-U-N-T-I-N-G?” saya pun mengejanya, tapi ekspresi tak paham masih saja mereka tunjukkan. Saya paham jika mereka merasa asing dengan istilah ini, dan saya merasa bersalah. Baru terpikirkan untuk ‘mengajari’ mereka setelah masalah ini mencuat hingga perlu dikampanyekan secara nasional.

“Stunting artinya gagal tumbuh. Tanda yang mudah terlihat apakah seseorang itu mungkin terkena stunting, dia berperawakan lebih kecil bahkan cenderung kerdil di antara orang kebanyakan….” jelas saya kemudian.

“Teman kalian ada yang seperti itu?” anak-anak pun lalu menceritakan tentang teman-temannya yang memiliki ciri-ciri seperti stunting. Cerita mereka cukup mengejutkan. Bahwa di daerah perkotaan, bahkan di sekolah favorit yang identik dengan kalangan mampu, anak-anak berciri stunting ternyata jumlahnya cukup signifikan.

Rabu, 26 September 2018

Melawan Mitos, Mari Cegah Stunting dengan Cerdas

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih
Food for Peace. Sumber Foto : IG Tanoker.id


“Hei, ibu hamil jangan makan ikan, nanti anaknya amis…..”

“Habis melahirkan jangan makan telur, ayam, ikan. Nanti anaknya gatal-gatal, jahitan ibunya lama sembuh…..”

“Bayi itu semakin cepat makan semakin cepat besar, anaknya jadi lebih sehat….”

“ASI kamu sudah gak bagus itu, ayo kasih susu tambahan anakmu. Bayi itu kalau gendut jadi jarang sakit…..”

“Anak itu semakin mahal harga susunya, nanti tumbuh jadi anak yang lebih pintar dari teman-temannya….”

* * *

Jumat, 10 Agustus 2018

Collaborative Parenting, Aktualisasi Peran Keluarga dan Masyarakat dalam Pendidikan Kekinian

Gambar dari www.6seconds.org


Perpustakaan Kampoeng Batja di hari Minggu biasa ramai dengan kegiatan keluarga. Ada yang asyik membaca buku di ruang perpustakaan. Ada yang sibuk bermain aneka permainan di teras. Ada yang berlari-lari di halaman. Atau main prusutan di taman. Kadang ada latihan memanahnya juga. Kampoeng Batja yang terletak di area padat penduduk di kota Jember ini memang selain diperuntukkan untuk taman bacaan masyarakat, juga mendedikasikan dirinya sebagai tempat bagi berbagai kegiatan bertema sosial dan pendidikan bagi masyarakat sekitar. Dan di hari Minggu di bulan April saat itu, ada acara kumpul-kumpul yang sedikit beda dari biasanya.

Beberapa orang tua hadir dengan anak-anaknya. Setiap orang tua nampaknya sudah berbagi tugas dengan cukup baik. Ada orang tua yang menemani anak-anak bermain. Ada orang tua yang intens mengajak anak-anak bercerita seperti layaknya teman. Aneka camilan juga tersedia. Acara kumpul-kumpul yang seyogyanya bermisi ‘belajar’ itu menjadi tidak terasa seperti belajar bagi anak-anak. Mereka terlihat rileks dan gembira. Saya yang tidak sengaja berkunjung ke Kampoeng Batja saat itu, turut nimbrung dan mendapati, sebuah konsep besar aktualisasi peran orang tua dan masyarakat dalam pendidikan yang kekinian sedang dipraktikkan. Apakah itu? Sejumlah ayah dan ibu yang saya ajak ngobrol, menyebut acara mereka sebagai collaborative parenting. Mendengar istilahnya saja saya merasa seperti menemukan oase.

Senin, 30 Juli 2018

Inspirasi ‘Tabungan Rahasia’ Emak-emak Jaman Old

Meme tentang ‘simpanan’ beredar di beberapa WAG yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Teman-teman yang baca post ini mungkin lihat juga ya? Itu lho, tentang suami yang minta ijin pada istrinya untuk punya ‘simpanan’ karena penghasilan bulanannya 20 juta. Meme yang berakhir dengan si istri kejang-kejang karena ‘simpanan’ yang dimaksud si suami ternyata istri baru dengan anaknya. Sedang si istri, saya, dan mungkin mayoritas yang baca, mikirnya itu simpanan dalam bentuk uang. Polosnya kita yah, haha.


Sumber foto : khadimul-ummah.or.id

Meme jenis itu seperti biasa mengundang banyak respon. Yang bapak-bapak, we know-lah ke mana arahnya. Yang ibu-ibu, saling merapatkan barisan. Haha. Lalu saya? Saya malah jadi ingat dan berpikir, kalau bapak-bapak bisa punya simpanan, yang emak-emak boleh juga dong? Simpanan di sini dalam arti yang sebenarnya ya. Tabungan. Dalam bentuk uang, atau semacamnya yang bernilai, seperti perhiasan. Soal simpanan model ini, saya jadi ingat bagaimana piawainya emak-emak jaman old dalam hal menabung.

Kamis, 26 Juli 2018

ABK dalam Gerbong Revolusi Industri 4.0


Koran Digital Koran Jakarta 25 Juli 2018

Dalam rangka menyongsong era revolusi industri jilid 4 (RI 4.0) yang sudah di depan mata, sektor pendidikan menjadi salah satu sektor strategis yang mengalami pembenahan signifikan. Di Indonesia, salah satu program konkritnya adalah melalui pendidikan vokasi industri baik di jenjang perguruan tinggi maupun di tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK). Program ini juga diharapkan menjadi solusi bagi problematika mismatch atau ketidaksesuaian antara output pendidikan dan kebutuhan dunia kerja di tanah air. Data ILO menyebutkan, hanya sekitar 37 persen dari total output pendidikan di Indonesia yang well match.

Senin, 23 Juli 2018

5 Destinasi Wisata Jember yang Menjadi Rujukan Penelitian

Suasana belajar di Tanoker Ledokombo. Foto dari tanoker.org
Jember makin rame. Sektor pendidikan semakin maju, investasi juga semakin menggeliat. Didukung oleh sarana transportasi yang lengkap dan mudah, ditambah fasilitas akomodasi yang juga lengkap dan variatif, Jember semakin dilirik oleh banyak kalangan. Baik sebagai tujuan wisata, pendidikan, bisnis, maupun penelitian. Nah, untuk tujuan yang terakhir ini, sebagai rujukan penelitian, ternyata sejumlah destinasi wisata Jember menjadi rujukan penelitian untuk dipelajari bahkan menjadi role model di tingkat nasional bahkan dunia. Keren kan? Jember ternyata tidak hanya memiliki kecantikan dan keunikan alam dan sosial yang menarik untuk dikunjungi, namun juga dipelajari dan menjadi rujukan.

Dalam post kali ini, saya merangkum 5 destinasi wisata Jember yang tidak hanya dikunjungi untuk dinikmati keindahannya, namun juga dipelajari konsepnya, bahkan tak jarang kemudian diaplikasikan di tempat lain.



Sabtu, 09 Juni 2018

Pengalaman Pertama Ikut Kopdar Blogger

Kalau nyebutnya dirinya 'blogger', terus gak pernah ikut kopdar alias kopi darat itu rasanya koq ketinggalan kereta banget ya? Hehe. Apalagi tinggalnya di kota yang atmosfir ngeblognya bagus, ditambah jumlah bloggernya lumayan. Tapi inilah yang benar-benar saya alami. Ketika aktivitas ngeblog saya hampir genap semua jari di dua tangan, alias hampir satu dekade, seumur-umur saya baru sekali ikut kopdar. Gak murni kopdar juga, karena acara utama yang saya hadiri hari itu adalah talkshow dan buka bersama dengan para pemenang lomba blog destinasi Jember yang dihelat oleh Blogger Jember Sueger (BJS), Taman Botani Sukorambi dan Dinas Pariwisata Jember pada 2 Juni lalu. It's ok. Setidaknya saya pernah kopdar, hahaha.




 
;