Selasa, 17 September 2019

Bom Waktu Kesehatan Masyarakat



Keterangan foto tidak tersedia.


Per 1 Januari 2019, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan atau BPJS Kesehatan genap berusia 5 tahun. Dengan jumlah peserta per 1 Juli 2018 yang mencapai 199 juta jiwa atau sekitar 80 persen dari keseluruhan populasi penduduk Indonesia, BPJS Kesehatan menjadi peserta program jaminan sosial terbesar di dunia. Jumlah peserta BPJS akan terus meningkat sebagaimana target pemerintah mencapai Universal Health Coverage (UHC) pada 2019. Artinya, sebanyak 257 juta penduduk Indonesia sudah harus menjadi peserta program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Sejumlah sanksi telah disiapkan bagi mereka yang tidak mematuhi aturan ini. Seperti, tidak bisa membuat sejumlah dokumen kependudukan. Pra kondisi peraturan ini bahkan telah berlangsung sejak 1-2 tahun terakhir. Menjadi peserta BPJS Kesehatan telah menjadi syarat wajib untuk berbagai kepentingan, seperti melamar pekerjaan di sejumlah instansi. Baik pemerintah maupun swasta.

Minggu, 15 September 2019

Problem Sampah saat Ramadan

Salah satu masalah klasik yang kita hadapi saat Ramadan adalah peningkatan jumlah sampah yang sangat fantastis. Untuk wilayah Jakarta saja, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta pada 2018 lalu mencatat terjadi peningkatan tonase sampah sebesar 289 ton per hari atau meningkat empat persen dari bulan biasa. Peningkatan ini disebabkan oleh perubahan dan peningkatan pola konsumsi masyarakat pada waktu berbuka puasa dan sahur. Kenaikan jumlah sampah umumnya juga terjadi di daerah-daerah lain terutama kota-kota besar yang memiliki tren peningkatan konsumsi selama Ramadan. Sejumlah aktivis lingkungan memperkirakan, setidaknya terjadi peningkatan sebanyak 500 ton sampah makanan khusus Ramadan. Sama dengan Jakarta, kebanyakan sampah adalah gabungan dari makanan yang tidak habis serta kemasan makanan.

Peningkatan jumlah sampah yang sangat signifikan ini tentunya sangat mengkhawatirkan mengingat pada bulan-bulan lain di luar Ramadan, produksi sampah kita terutama yang berasal dari sisa makanan, menempati peringkat kedua dunia yakni sebanyak 300 kilogram per orang per tahun. Data yang dilansir oleh Pusat Makanan dan Nutrisi Barilla pada tahun 2018 yang juga dimuat oleh The Economist Intelligence Unit ini mencatat Arab Saudi di posisi pertama dengan jumlah sampah makanan mencapai 427 kilogram per orang per tahun. Disusul oleh Amerika Serikat di posisi ketiga dengan jumlah 277 kilogram per orang per tahun.

Senin, 05 Agustus 2019

Revolusi Sehat dari Dapur

Keterangan foto tidak tersedia.

Kesehatan kini merupakan salah satu isu utama kehidupan, baik pribadi, keluarga, masyarakat, maupun dunia internasional. Kualitas kesehatan sendiri sangat dipengaruhi banyak faktor seperti gaya hidup, pola makan, lingkungan, dan hubungan sosial. Banyak penyakit masa kini yang sering dikaitkan dengan kesalahan pola makan. Dua isu utama yang kini menjadi perbincangan hangat, kekurangan gizi kronis (malnutrisi). Hal ini dikaitkan dengan stunting (postur kerdil) dan obesitas (sumber berbagai penyakit serius seperti stroke, diabetes, darah tinggi, dan jantung).
Malnutrisi sering dikaitkan dengan kemiskinan. Ini identik dengan negara-negara berkembang dan daerah tertinggal. Akses orang miskin terhadap makanan bergizi dan berkecukupan tidak bisa optimal. Ditambah lagi sanitasi buruk dan layanan kesehatan kurang baik. Di negara-negara maju, problem kesehatan utamanya berat badan berlebih atau obesitas.

Minggu, 04 November 2018

Menyiapkan Generasi Muda Tanggap 1000 Hari Pertama Kehidupan

“Kalian tahu ‘stunting’”? tanya saya pada anak-anak yang sedang asyik menonton tivi. Kedua putri saya, Sasha (14 tahun) dan Naura (10 tahun), mengeryitkan wajah tak paham hampir bersamaan.

“Stunting. S-T-U-N-T-I-N-G?” saya pun mengejanya, tapi ekspresi tak paham masih saja mereka tunjukkan. Saya paham jika mereka merasa asing dengan istilah ini, dan saya merasa bersalah. Baru terpikirkan untuk ‘mengajari’ mereka setelah masalah ini mencuat hingga perlu dikampanyekan secara nasional.

“Stunting artinya gagal tumbuh. Tanda yang mudah terlihat apakah seseorang itu mungkin terkena stunting, dia berperawakan lebih kecil bahkan cenderung kerdil di antara orang kebanyakan….” jelas saya kemudian.

“Teman kalian ada yang seperti itu?” anak-anak pun lalu menceritakan tentang teman-temannya yang memiliki ciri-ciri seperti stunting. Cerita mereka cukup mengejutkan. Bahwa di daerah perkotaan, bahkan di sekolah favorit yang identik dengan kalangan mampu, anak-anak berciri stunting ternyata jumlahnya cukup signifikan.

Rabu, 26 September 2018

Melawan Mitos, Mari Cegah Stunting dengan Cerdas

“Hei, ibu hamil jangan makan ikan, nanti anaknya amis…..”

“Habis melahirkan jangan makan telur, ayam, ikan. Nanti anaknya gatal-gatal, jahitan ibunya lama sembuh…..”

“Bayi itu semakin cepat makan semakin cepat besar, anaknya jadi lebih sehat….”

“ASI kamu sudah gak bagus itu, ayo kasih susu tambahan anakmu. Bayi itu kalau gendut jadi jarang sakit…..”

“Anak itu semakin mahal harga susunya, nanti tumbuh jadi anak yang lebih pintar dari teman-temannya….”

* * *

Jumat, 10 Agustus 2018

Collaborative Parenting, Aktualisasi Peran Keluarga dan Masyarakat dalam Pendidikan Kekinian

Gambar dari www.6seconds.org


Perpustakaan Kampoeng Batja di hari Minggu biasa ramai dengan kegiatan keluarga. Ada yang asyik membaca buku di ruang perpustakaan. Ada yang sibuk bermain aneka permainan di teras. Ada yang berlari-lari di halaman. Atau main prusutan di taman. Kadang ada latihan memanahnya juga. Kampoeng Batja yang terletak di area padat penduduk di kota Jember ini memang selain diperuntukkan untuk taman bacaan masyarakat, juga mendedikasikan dirinya sebagai tempat bagi berbagai kegiatan bertema sosial dan pendidikan bagi masyarakat sekitar. Dan di hari Minggu di bulan April saat itu, ada acara kumpul-kumpul yang sedikit beda dari biasanya.

Beberapa orang tua hadir dengan anak-anaknya. Setiap orang tua nampaknya sudah berbagi tugas dengan cukup baik. Ada orang tua yang menemani anak-anak bermain. Ada orang tua yang intens mengajak anak-anak bercerita seperti layaknya teman. Aneka camilan juga tersedia. Acara kumpul-kumpul yang seyogyanya bermisi ‘belajar’ itu menjadi tidak terasa seperti belajar bagi anak-anak. Mereka terlihat rileks dan gembira. Saya yang tidak sengaja berkunjung ke Kampoeng Batja saat itu, turut nimbrung dan mendapati, sebuah konsep besar aktualisasi peran orang tua dan masyarakat dalam pendidikan yang kekinian sedang dipraktikkan. Apakah itu? Sejumlah ayah dan ibu yang saya ajak ngobrol, menyebut acara mereka sebagai collaborative parenting. Mendengar istilahnya saja saya merasa seperti menemukan oase.

Senin, 30 Juli 2018

Inspirasi ‘Tabungan Rahasia’ Emak-emak Jaman Old

Meme tentang ‘simpanan’ beredar di beberapa WAG yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Teman-teman yang baca post ini mungkin lihat juga ya? Itu lho, tentang suami yang minta ijin pada istrinya untuk punya ‘simpanan’ karena penghasilan bulanannya 20 juta. Meme yang berakhir dengan si istri kejang-kejang karena ‘simpanan’ yang dimaksud si suami ternyata istri baru dengan anaknya. Sedang si istri, saya, dan mungkin mayoritas yang baca, mikirnya itu simpanan dalam bentuk uang. Polosnya kita yah, haha.


Sumber foto : khadimul-ummah.or.id

Meme jenis itu seperti biasa mengundang banyak respon. Yang bapak-bapak, we know-lah ke mana arahnya. Yang ibu-ibu, saling merapatkan barisan. Haha. Lalu saya? Saya malah jadi ingat dan berpikir, kalau bapak-bapak bisa punya simpanan, yang emak-emak boleh juga dong? Simpanan di sini dalam arti yang sebenarnya ya. Tabungan. Dalam bentuk uang, atau semacamnya yang bernilai, seperti perhiasan. Soal simpanan model ini, saya jadi ingat bagaimana piawainya emak-emak jaman old dalam hal menabung.
 
;